Posbekasi.com

Muak’ Banjir Berulang di Bekasi-Jakarta-Tangsel, Pemerintah Dituding tidak Pernah Serius

Pantauan udara kondisi banjir di Kota Bekasi, Jawa Barat, Selasa (4/3/2025). Posbekasi.com / BNPB

posBEKASI.com | BEKASI – Tiga hari setelah banjir melanda sebagian wilayah Jabodetabek, warga yang terdampak meluapkan kekesalan mereka terhadap pemerintah. Beberapa mengaku “muak” karena peristiwa ini terus berulang tanpa adanya solusi yang menyeluruh.

Selama 11 tahun tinggal di Pekayon, Bekasi Selatan, keluarga Happy (32) sudah beberapa kali menjadi korban banjir.

“Setiap lima tahun pasti kena banjir. Tahun 2015, 2020 dan paling baru 2025 ini,” papar warga Perumahan Jaka Kencana itu kepada BBC News Indonesia pada Rabu (5/3/2025).

Ibu beranak satu yang bekerja sebagai karyawan hotel itu menyebut banjir pada Senin (3/3/2025) adalah yang paling membuat trauma.

Pada Selasa (4/3/2025) sekitar pukul 07.00 WIB, Happy menggendong anak laki-lakinya yang baru berusia 18 bulan untuk proses evakuasi menggunakan perahu karet.

“Aku merasa marah banget. Evakuasi sambil bawa bayi itu pengalaman yang cukup menakutkan,” tutur Happy yang mengkhawatirkan keselamatan putranya.

Happy mengaku tidak habis pikir. Padahal, menurutnya, pengawas-pengawas dari Komunitas Peduli Cileungsi Cikeas (KP2C) sudah memberitahukan adanya kemungkinan banjir sejak minggu lalu melalui aplikasi WhatsApp.

“Tapi saya tidak melihat ada respons serius dari pemerintah. Peringatan evakuasi itu tidak ada.

Padahal kalau misalnya ada dari minggu lalu, mungkin enggak akan sampai seperti ini.”

Untuk sementara, dia mengungsi ke tempat kerjanya di daerah Semanggi, Jakarta Selatan. Keluarganya mulai secara perlahan memperbaiki rumah yang hancur berantakan.

“Pelan-pelan, karena puncak hujan katanya masih akan berlangsung sampai tanggal 15 Maret nanti.”

Keluarga Happy kehilangan banyak perkakas seperti kulkas. Mobil mereka juga raib akibat banjir.

Secara total, Happy memperkirakan keluarganya mengalami kerugian antara Rp50 juta dan Rp100 juta. Jumlah ini tidak jauh berbeda dengan kerugian yang mereka alami pada dua banjir besar sebelumnya.

“Enggak lucu saja rasanya kami menabung tapi tiap lima tahun habis semua untuk mitigasi banjir,” ujarnya. (BBC)

BEKASI TOP