
POSBEKASI.COM | YOGYAKARTA – Kepala Kepolisian Resor Kota Yogyakarta Kombes Polisi Armaini mengatakan hingga Selasa (5/3) Kota Yogakarta masih menjadi pasar peredaran narkotika dan obat-obatan terlarang yang berasal dari luar daerah
“Yang dimaksud pasar narkoba di sini pemakainya banyak, konsumennya banyak,” kata Armaini seusai acara pemusnahan barang bukti narkotika di Lapangan Panahan, Jalan Kenari, Yogyakarta.
Menurut Armaini, penilaian Yogyakarta sebagai pasar peredaran narkoba didasarkan pada data dan fakta penindakan kasus peredaran narkoba di kota setempat yang masih tinggi. “Data tahunan pemakai narkoba di Yogyakarta makin meningkat,” kata dia.
Berdasarkan catatan Polresta Yogyakarta, peredaran narkoba rata-rata menyasar mahasiswa yang menuntut ilmu di Yogyakarta. Meski tidak seluruhnya, pengguna narkoba di Yogyakarta kebanyakan memang di rentang usia 20 sampai 35 tahun.
“Mahasiswa ini ‘kan punya duit dia, ya, ‘kan. Tiap bulan ‘kan dikirim uang. Akan tetapi, mohon maaf, jumlah persentasenya (tidak hafal). Enggak mungkin 50 persen mahasiswa,” katanya.
Selama ini, kata dia, narkoba yang diedarkan berasal dari luar Daerah Istimewa Yogyakarta. Hingga saat ini, polisi tidak menemukan tempat memproduksi narkoba di wilayah Yogyakarta.
KLIK : Gadis Ini Minta Dukun Buka Aura, Eh… Malah Ditelanjangi dan Diperkosa
“Transaksi narkoba secara terbuka di tempat-tempat hiburan malam juga sudah menurun, beralih ke indekos,” katanya.
Kepala Bidang Pemberantasan Narkoba BNNP DIY Ajun Komisaris Besar Polisi (AKBP) Sudaryaka menyebutkan Yogyakarta tidak hanya dibidik kelompok pengedar dari daerah lain di dalam negeri, tetapi juga luar negeri. “Yogyakarta memang jadi pangsa pasar yang konsumtif,” katanya.
Sebelumnya, Sudaryaka mengungkapkan bahwa salah satu modus yang masih kerap untuk mengecoh dan menyulitkan petugas di Yogyakarta adalah sistem beli putus.
Modus tersebut kebanyakan dilakukan penjual dan pembeli yang tidak saling mengenal dengan bertransaksi melalui telepon genggam.
Menurut Sudaryaka, cara itu menyulitkan petugas untuk mengungkap pemasok yang lebih besar di atasnya karena saat ditangkap, penjual maupun pembelinya ternyata tidak saling mengenal.
Para pengedar, kata dia, saat ini memilih menunggu kurir di titik-titik perbatasan yang paling dekat dengan Yogyakarta, seperti Solo, Sukoharjo, Klaten, dan Delanggu.
Narkoba yang diedarkan pun kebanyakn berupa paket bungkusan-bungkusan kecil dengan berat mulai 0,5 gram.[ANT/ROL]

