Posbekasi.com

Pasar: Wani Piro?

Pasar apung tradisional.[IST]
POSBEKASI.COM – Oleh: Chryshnanda DL

Pasar tempat pedagang, pembeli, tengkulak, buruh, tukang sapu,tukang parkir, tukang penjual jasa hingga tukang catut dan rentenirpun dapat saling bertemu dalam berbagai kepentingan yang menghasilkan kesepakatan di antara mereka tatkala ada transaksi atau setidaknya dalam komunikasi.

Pasar identik dengan tawar menawar bisa saja ada jual ada beli yang benang merahnya saling menerima dan sepakat pada suatu harga. Keunikan pasar pada tawar menawarnya kepiawaian komunikasi menjadi suatu cirikhas dari kehidupan di dalamnya.

Pasar menggambarkan adanya egaliter sebagian besar atau bahkan seluruhnya bisa, kaum pendatang namun juga ada otoriternya ada adu kekuatan. Yang kuat tetap menang, yang mayoritas dominan walau belm tentu mendominasi.

Pasar semakin besar akan semakin kompleks kadang tidak hanya bersifat lokal namun bisa saja mengglobal. Keunggulan suatu pasar tatkala banyak pembelinya. Bisa juga karena label barang jualannya yang di label  kualitasnya atau harganya, yang penting pasar menunjukkan karakternya.

Pasar hampir setiap hari dijadikan nama suatu pasar, mungkin pasar ‘Selasa’ saja yang belum saya dengar atau belum saya ketahui dengan pasti. Pasar tradisional, walaupun seadanya namun ada geliat ekonomi yang menghidupi dan mampu bertahan dalam gerusan kemajuan zaman.

Dalam kehidupan sosial kemasyarakatan apa yang terjadi dalam proses dan interaksinya dapat dipatut patutkan atau dianalogikan dengan pasar. Mungkin aneh dan tidak lazim analogi pasar dijadikan pendekatan untuk melihat suatu fenomena.

Saya teringat pesan guru saya Prof.Parsudi Suparlan (almarhum) yang selalu menganjurkan melihat pasar di setiap daerah. Beliau tidak menunjukkan apa-apa tentang pasar. Beliau juga tidak memgajarkan mengapa pasar menjadi begitu penting dalam pandangan beliau.

Setelah sekian lama, waktu berlalu saya renung-renungkan apa ajaibnya sebuah pasar? Tatkala saya mencoba melukis tentang kehidupan sosial model dan rasa apa yang bisa saya ekspresikan dalam kanvas. Ternyata pasar bisa mewakili dan dapat digunakan sebagai pendekatan.

Di dalam bidang politik dapat dianalogikan sebagi pasar kekuasaan. Pasar politik yang menjadi konsentrasinya, tentu ada prosesnya bargaining kekuatan dukung mendukung. Bagi-bagi kekuasaan yang semuanya ada label harga dan pamrihnya ‘wani piro’ sebagai tawaran untuk mendapatkan kesepakatan.

Bidang pendidikan menjadi pasar nilai dan rangking. Pendidikan yang semestinya sebagai lembaga transformasi penyiapan alih generasi, peningkatan kompetensi tak jarang kecanduan budaya pasar. Nilai dan ranking bisa dibeli. Guru melacurkan diri dan banyak lagi masalah sosial yang timbul. Sekolah seringkali dijadikan status sosial.

Di dalam sistem peradilan analogi pasar pasal keadilan yang merupakan ikon peradaban pun bisa kerasukan budaya pasar salah bisa benar yang benar bisa salah. Memutuskan yang tidak putus bahkan memutus yang sudah putus.

Pasal-pasal hukum dijadikan barang dagangan bahkan yang mengadili pun ada yang bangga bisa memutus tidak adil karena ada tekanan, entah massa, entah karena telah menerima sesuatu. Dewi keadilan sudah lirik mata dan pasang tarif harga ‘wani piro’. Di dalam sistem birokrasi sepertinya tak mau ketinggalan…[]

BEKASI TOP