Bekasi Online

“Hoegeng” Orang Baik dan Orang Penting [Sambungan-2]

Memang baik menjadi orang penting. Tapi lebih penting menjadi orang baik -Hoegeng Iman Santoso-

Hoegeng Iman Santoso

POSBEKASI.COM – Oleh: Chryshnanda DL

Figur atau sosok pemimpin polisi seperti Hoegeng Iman Santoso masih relevan di ditumbuhkembangkan di era digital dalam membangun polisi yang profesional, modern dan terpercaya.

Hoegeng Iman Santoso bisa dikatakan polisi luar biasa yang mempunyai keistimewaan yang dapat menjadi inspirasi dalam membangun polisi sipil dalam masyarakat yang demokratis. Mungkin secara konseptual Hoegeng tidak meninggalkan pemikiran-pemikiran atau konsep-konsep penting bagi kepolisian namun hidup dan kehidupanya dan prinsip-prinsip hidupnya menjadi luar biasa dan mengispirasi yang patut diteladani.

Pada saat Birokrasi mengagungkan nilai-nilai materialistik dan korup tentu tidak akan tersentuh profesionalismenya dan nuraninya karena yang dikembangkan pendekatan-pendekatan personal.

Sikap dan pemikiran Hoegeng, bisa jadi malah menjadi duri dalam daging atau dianggap tidak mampu memanfaatkan kesempatan-kesempatan yang dimilikinya. Hoegeng memang keras pada prinsip dan ia setia pada prinsipnya walau dia sendiri harus rela disingkirkan dan bahkan dicekal.

Ia tetap saja mampu menikmati dan bangga dengan apa yang dia miliki dan ia memang konsisten dan konsekuen mengambil jalan akan hidupnya sebagai polisi. Seseorang bangga pada profesinya karena merasa profesinya yang mulia, nilai-nilai hakikinya adalah kebenaran dan kemanusiaan.

KLIK : “Hoegeng” Orang Baik dan Orang Penting

KLIK : Hoegeng” Orang Baik dan Orang Penting [Sambungan-1]

Selain itu juga, sadar bahwa memang layak dibanggakan karena mempunyai prestasi dan produk kerja yang bermanfaat bagi kemanusiaan dan penegakan kebenaran. Saat ia menjadi menteri iuran negara tetap saja berpakaian dinas kepolisian, begitu bangga dan mencintainya polisi yang ia sandang kemana-mana.

Dalam konteks ini Hoegeng memang menjadi duta kepolisian di institusi lain. Ia sadar akan posisinya sebagai penegak hukum yang memang harus tegas, namun humanis. Ia berani menunjukan bahwa ada polisi yang layak dan mampu menjadi mentri yang baik.

Hingga kini  Hoegeng masih dikenang dan bahkan dijadikan ikon polisi yang bersih. Gusdur dalam kelakarnya mengatakan, “Polisi yang tidak dapat disuap itu ada 3 yaitu patung polisi, polisi tidur dan pak Hoegeng”.

Sebagai pemimpin yang loyal namun Hoegeng pun tergolong pemberani termasuk berani berkorban dan mengambil resiko dilepas dari jabatanya. Pada saat berseberangan dengan penguasa Orde Baru Ia berani mengatakan tidak walau masih dalam usia yang tergolong muda sudah dipensiunkan (Usia 49 Tahun). Ia tunjukkan sikapnya bukan sebagai pengemis jabatan. Hal itu ditunjukanya saat berani menolak sebagai duta besar di salah satu negara Eropa Timur.[bersambung]

BEKASI TOP