
BEKASI KABUPATEN, POSBEKASI.com – Seni pertunjukan tradisional Ujungan resmi ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda oleh Direktorat Jenderal Perlindungan Kebudayaan dan Tradisi, Kementerian Kebudayaan, pada momentum peluncuran logo Hari Jadi Kabupaten Bekasi ke-76. Penetapan ini menjadi pengakuan penting bagi kekayaan sejarah masyarakat agraris Bekasi yang kini semakin dikenal luas.
“Zaman dulu Ujungan dimainkan saat pesta panen. Biasanya digelar pada malam bulan purnama karena saat itu belum ada penerangan. Masyarakat berkumpul merayakan hasil panen, perempuan membawa hasil bumi, sementara para laki-laki memainkan Ujungan,” kata Ketua Sanggar Margasari Kacrit Putra, Bang Udin Kacrit, Senin (27/7/2026).
Ia menjelaskan bahwa kesenian ini dulunya merupakan bagian dari tradisi perayaan rakyat tempo dulu. Permainan ini menggunakan tongkat rotan atau bambu sepanjang kurang lebih 80 sentimeter dengan aturan pukulan yang hanya diperbolehkan mengenai bagian kaki dari lutut ke bawah, sehingga mengutamakan sportivitas dan ketangkasan.
“Kalau ada yang terluka hingga mengeluarkan darah, dulu dipercaya panen tahun depan akan lebih baik. Itu bagian dari kepercayaan masyarakat saat itu,” ungkap Bang Udin mengenai filosofi tetesan darah sebagai simbol kesuburan tanah.
Selain sarat nilai historis, Ujungan juga melekat dengan citra Bekasi sebagai tanah para jawara yang menjadi ajang menguji keberanian para pendekar dari berbagai kampung.
“Yang ikut bermain biasanya orang-orang yang berani. Para jawara dari berbagai kampung datang untuk menunjukkan ketangkasan mereka. Tapi setelah selesai bertanding tidak ada dendam. Yang menang maupun yang kalah tetap saling menghormati,” katanya.
Status sebagai Warisan Budaya Tak Benda memberikan kebanggaan tersendiri bagi para pelaku seni sekaligus menjadi amanah untuk menjaga kelestariannya di tengah modernisasi.
“Alhamdulillah, saya sangat bangga. Ini menjadi bukti bahwa Ujungan adalah warisan budaya yang harus terus kita lestarikan,” ujarnya.
Semangat pelestarian tersebut kini diteruskan oleh generasi muda Kabupaten Bekasi, salah satunya David Kitnasto, yang aktif mempelajari gerakan dan filosofi seni tradisional ini.
“Sebagai generasi muda, kita harus mencintai budaya sendiri. Para senior sudah memberikan ruang dan dukungan kepada kami. Sekarang tugas kami meneruskan perjuangan mereka agar tradisi ini tetap lestari,” katanya usai menampilkan Seni Ujungan bersama tiga orang temannya.
Pemerintah Kabupaten Bekasi terus mendorong pengenalan identitas budaya lokal melalui berbagai agenda agar Ujungan tetap hidup dan menjadi kebanggaan masyarakat di masa kini. [gha]

