
POSBEKASI.COM – Oleh: Chryshnanda DL
DALAM pendidikan yang menjadi perhatian, salah satunya adalah masa depan hasil didik. Akan di bawa kemana anak-anak didik ini? Akan menjadi apa kelak mereka sebagai generasi penerus bangsa?
Mungkin jawaban akan bervariasi bahkan berbeda, bisa saja ekstrim dan saling bertentangan namun ada satu benang merah yaitu agar anak didik berkarakter mampu hidup mandiri dan tidak menjadi benalu. Entah mereka akan menjadi apa saja, mereka akan mampu mandiri tidak menjadi benalu dengan memegang prinsip nilai-nilai kebenaran, kejujuran, bahkan semangat mengangkat harkat dan martabat manusia.
Berupaya meningkatkan kualitas hidup manusia agar semakin manusiawinya manusia. Ini mungkin landasan cita cita luhur para bapa bangsa yang menorehkan tinta emas dalam sejarah bangsa ini untuk mencerdaskan kehidupan bangsa.
Seringkali keberhasilan hanya di lihat dari sisi materi dan sebagi orang kaya namun tidak tahu dari mana sumber kekayaanya dan bisa jadi malah menghisap dan menyengsarakan rakyatnya.
Lagu Rhoma Irama, yang salah satu liriknya mengatakan ‘….yang kaya makin kaya….‘ seolah mengkritik orang-orang yang kuat justru malah menindas yang lemah. Lagu ‘….rayap rayap…’ menghisap darah rakyat inipun menggambarkan yang kuat memeras kaum lemah.
Sindiran lukisan Sigit Santosa … ‘bapak kami yang ada di Jakarta gambar orang menyepak dan seolah ngentuti muka para bapak-bapak di Jakarta agar jangan lupa pada rakyat yang diwakilinya.
Sindiran lagu Iwan Fals berjudul ‘Bongkar’ menunjukkan kalau hanya ‘pangkat jabatan maka cinta akan dibuang dan kesedihan akan jadi tontonan bagi mereka yang diperkuda jabatan …’
Demikian halnya lagu Bento yang salah satu syairnya …’yang penting senang, yang penting menamg, persetan orang susah karena aku…. Banyak sindiran kritik dan oto kritik pada lembaga pendidikan namun sepertinya belum jleb.
Pendidikan akan dianggap baik, awalnya dimulai dari guru yang baik dan boleh dikatakan berkarakter. Guru-guru memiliki kualitas patriot pejuang-pejuang kemanusiaan pembangun peradaban dan sekaligus penjaga kehidupan. Para guru seringkali lupa esensi mencerdaskan muridnya, bahkan ada guru yang bangga kalau membuat susah atau muridnya harus mengulang semua.
Guru killer sudah tidak jaman lagi, guru bukan mematikan karakter melainkan menemukan karaktr mensuportnya dan memberdayakannya. Guru memang harus bisa ‘nyontoni ngancani ngewangi’ kalau perlu memang malah mbayari. Ini konsep ajrih asih guru bukan terbeli tetapi dia dihormati karena sebagai orang tua, kakak, teman, bahkan seahabat dalam kesusahan.
Pendidikan adalah proses hidup tumbuh dan berkembang. Orang bisa cepat kaya namun hampir tidak mungkin cepat pintar. Orang yang tidak jelas kualitasnya tiba-tiba melejit, rangking papan atas bisa dipertanyakan, adalah beli atau nyuap atau ngrubah nilai? Berbagai kecurigaan bisa muncul dar gurunya sampai sistem administrasi yang curang.
Kebanggaan lembaga pendidikan adalah kebenaran dan kejujuran. Bukan kucing-kucingan, tipu-tipu juga. Bagaimana kalau gurunya memulis, masih dituliskan guru lelah dan malas berpikir. Ini menjadi contoh buruk bagi para murid. Apalagi mnejid dosen atau guru hanya untuk gagah-gagahan semata. Ilmunya tidak ada mengandalkan masa jaya…[]

