Posbekasi

Groundbreaking PSEL Bantargebang Ubah Tempat Sampah Jadi Pusat Energi Baru

Pemerintah Kota Bekasi resmi memulai pembangunan fasilitas Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) berkapasitas 1.500 ton per hari di kawasan Bantargebang, Ciketing Udik, Kota Bekasi, Rabu (26/8/2026). Posbekaai.com / Ist

BEKASI KOTA, POSBEKASI.com — Pemerintah Kota Bekasi resmi melaksanakan groundbreaking pembangunan Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) berkapasitas 1.500 ton per hari di kawasan Bantargebang, Rabu (26/8/2026). Langkah strategis ini dilakukan untuk memangkas beban tumpukan sampah harian sekaligus mengubah kawasan Bantargebang menjadi pusat energi baru dan kawasan industri hijau.

“Bantargebang sudah lama menjadi tempat sampah. Hari ini kita mulai menjadikannya tempat lahirnya energi. Harapan ke depan, Bantargebang ini akan menjadi pusat inovasi lingkungan dan kawasan industri hijau yang tentunya membawa peningkatan ekonomi bagi masyarakat,” ujar Wali Kota Bekasi, Tri Adhianto.

Meskipun PSEL didesain untuk mengolah mayoritas sampah harian Kota Bekasi yang masuk ke TPST Bantargebang, fasilitas canggih ini belum sepenuhnya menampung total seluruh limbah masyarakat. Pemerintah mencatat masih ada sisa ratusan ton sampah harian yang tetap perlu ditangani secara berkesinambungan.

“PSEL ini kapasitasnya 1.500 ton per hari. Artinya masih ada PR sekitar 300 ton setiap harinya. Ini yang harus kita selesaikan bersama, tidak bisa hanya mengandalkan pemerintah,” tegas Tri.

Guna menyelesaikan sisa timbulan sampah tersebut, Pemkot Bekasi menekankan bahwa kecanggihan teknologi PSEL harus diimbangi dengan peran aktif seluruh elemen masyarakat, mulai dari kawasan pemukiman, sekolah, perkantoran, hingga pusat perbelanjaan.

“Tapi teknologi saja tidak cukup. Sebagus apa pun teknologinya, pengelolaan sampah tidak akan berhasil tanpa kesadaran masyarakat. Karena itu, perubahan harus dimulai dari rumah: bagaimana kita mengurangi sampah, memilah dan membuangnya dengan benar,” katanya.

Melalui momentum peluncuran proyek ini, masyarakat diimbau untuk menjadikan pemilahan sampah organik dan anorganik dari sumbernya sebagai budaya baru, sehingga volume sampah yang berakhir di tempat pengolahan dapat ditekan secara signifikan.

“Bantargebang harus kita ubah. Dari tempat sampah menjadi tempat lahirnya energi baru, menjadi pusat inovasi lingkungan dan kawasan industri hijau. Tetapi semua itu hanya bisa terwujud kalau pemerintah, dunia usaha dan masyarakat bergerak bersama,” pungkasnya.

 

Pewarta/Editor: Ika Pudiarti

BEKASI TOP