
BEKASI KABUPATEN, POSBEKASIA.com — Pemerintah Kabupaten Bekasi melalui Dinas Pertanian bergerak cepat melakukan langkah mitigasi guna mencegah meluasnya dampak kekeringan pada sektor pertanian. Upaya ini dilakukan untuk menjaga produktivitas lahan sawah yang saat ini terdampak kemarau di puluhan desa.
Sebagai penanganan jangka pendek, Dinas Pertanian melalui Tim Brigade Alat dan Mesin Pertanian (Alsintan) telah menyalurkan 83 unit pompa air ke wilayah-wilayah rawan. Bantuan tersebut terdiri dari 13 unit pompa berukuran 6 inci dan 70 unit pompa berukuran 3 inci.
Pompa air didistribusikan ke tujuh kecamatan terdampak, yakni Pebayuran, Cabangbungin, Kedungwaringin, Tambelang, Sukawangi, Setu, dan Muara Gembong. Fasilitas ini dimanfaatkan untuk menyedot air dari sungai dan sumber air terdekat menuju persawahan.
Langkah darurat ini diambil menyusul data kekeringan yang kini telah melanda sekitar 1.354 hektare lahan pertanian yang tersebar di 41 desa pada 15 kecamatan se-Kabupaten Bekasi.
Kepala Bidang Tanaman Pangan Dinas Pertanian Kabupaten Bekasi, Eem Embang, menegaskan pentingnya intervensi sejak dini agar ancaman kekeringan tidak menggerus angka produksi padi daerah.
“Melakukan mitigasi sejak dini pada wilayah rawan kekeringan dan melakukan penanganan jangka pendek sesuai tugas, fungsi, dan anggaran Dinas Pertanian,” ujar Eem saat ditemui di Kantor Dinas Pertanian Kabupaten Bekasi, dikutip dalam keterangannya, Jumat (21/8/2026).
Eem menyampaikan bahwa hingga kini belum terjadi penurunan produksi padi secara signifikan. Namun, penyusutan debit air tetap menjadi ancaman serius bagi target perluasan areal tanam.
“Di situ pastinya terdampak ada penurunan produksi. Karena sebetulnya dari Kementerian Pertanian kita harus menggenjot luas tambah tanam. Nah, kalau luas tambah tanam terus-menerus harus ditingkatkan, kembali lagi ke kondisi air,” tambahnya.
Selain pompanisasi, Dinas Pertanian memfasilitasi para petani untuk mendapatkan surat rekomendasi Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi. Langkah ini guna memastikan ketersediaan solar untuk operasional mesin pompa tidak mengalami kendala.
Pihaknya juga rutin membersihkan saluran irigasi dari gulma eceng gondok serta berkoordinasi erat dengan Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) dan Perum Jasa Tirta (PJT) II untuk mengamankan suplai air.
Di sisi pemantauan, pendataan kondisi lahan dilakukan secara berkala bersama petugas Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan (POPT) agar setiap perkembangan di lapangan terdeteksi secara *real-time*.
Strategi Jangka Panjang dan Target Produksi
Untuk solusi jangka menengah dan panjang, pemkab memfokuskan pengerjaan pada normalisasi jaringan irigasi bersama BBWS. Sejumlah titik vital yang dinormalisasi meliputi:
• Saluran Sekunder (SS) Balongtua sepanjang 7 kilometer
• SS Jagawana sepanjang 10 kilometer
* Kali Butek sepanjang 1,5 kilometer di Kecamatan Cabangbungin
• Revitalisasi Kali Butek pada titik lain sepanjang 4 kilometer dan 1,5 kilometer
Selain itu, skema normalisasi irigasi di Desa Karangharja, Kecamatan Pebayuran, turut mendapat dukungan anggaran operasional dari Ditjen Lahan dan Perlindungan Pertanian Kementan.
Melalui rentetan penanganan ini, Pemkab Bekasi optimistis mampu mengejar target produksi padi sebesar 503 ton per musim, sekaligus mendorong optimalisasi Indeks Pertanam (IP) hingga tiga kali tanam dalam setahun.
Beberapa kawasan seperti Pebayuran, Sukatani, Sukakarya, Sukawangi, dan Muara Gembong tetap diandalkan sebagai lumbung padi. Di Kecamatan Pebayuran sendiri, produktivitas panen masih tergolong tinggi di angka 8 hingga 9 ton per hektare.
Sebagai langkah antisipasi lanjutan, Dinas Pertanian juga menerjunkan petugas informasi pasar kecamatan untuk mendata stok beras di penggilingan-penggilingan lokal demi memastikan ketersediaan pangan daerah tetap aman selama musim kemarau. [gha]

