Posbekasi.com

Bekali Napi Keterampilan Kerja Demi Masa Depan Keluarga, Ini Kata Stafsus Kemenimipas

Staf Khusus Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan, r. H. Abdullah Rasyid, M.E, (tengah). Posbekasi.com / Dokumentasi.

JAKARTA , POSBEKASI.com – Program pembinaan narapidana berbasis keterampilan kerja kini menjadi fokus utama Pemerintah untuk memastikan Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) dapat mandiri setelah bebas. Langkah ini dinilai sebagai strategi jitu agar mantan warga binaan tidak lagi terjerumus ke dunia kriminal dan mampu menafkahi keluarga mereka dengan cara yang halal.

Staf Khusus Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan, r. H. Abdullah Rasyid, M.E., menyatakan bahwa penguatan keterampilan produktif adalah kunci reintegrasi sosial yang sukses. Menurutnya, pembinaan di Lapas harus memberikan dampak ekonomi nyata bagi warga binaan dan orang-orang tersayang yang menunggu di rumah.

“Lapas harus menjadi tempat pembinaan yang produktif. Warga binaan perlu diberikan keterampilan agar mereka memiliki bekal ketika kembali ke tengah masyarakat,” ujar Abdullah Rasyid, Senin (30/3/2026).

Rasyid menjelaskan bahwa berbagai jenis pelatihan, mulai dari pertukangan, perbengkelan, pertanian, hingga keterampilan digital, kini terus diperluas di lingkungan Lapas. Pendekatan ini diharapkan dapat menekan angka residivisme, karena mantan narapidana yang memiliki penghasilan cenderung lebih mudah membangun kehidupan baru.

“Lapas tidak hanya menjadi tempat menjalani hukuman, tetapi juga menjadi ruang pembinaan ekonomi. Jika warga binaan keluar dengan keterampilan dan sertifikasi kerja, maka peluang mereka kembali melakukan pelanggaran bisa ditekan,” katanya.

Ia juga menggarisbawahi pentingnya kolaborasi antara lembaga pemasyarakatan dengan pemerintah daerah dan dunia usaha. Harapannya, program pembinaan ini tidak berhenti di dalam sel saja, melainkan berlanjut hingga ke dunia kerja agar para lulusan program bisa langsung terserap di sektor-sektor produktif.

“Kalau eks Warga Binaan diberi kesempatan bekerja, maka mereka akan menjadi produktif dan bisa berkontribusi bagi ekonomi keluarga maupun daerah. Tetapi kalau tidak ada ruang, maka risiko mereka kembali melakukan pelanggaran tentu lebih besar,” tuturnya.

Namun, ia mengakui tantangan terbesar saat ini adalah stigma negatif masyarakat yang masih menghantui para mantan narapidana. Rasyid mengimbau para pengusaha untuk mulai membuka pintu bagi mereka yang telah memiliki sertifikasi kerja dan menunjukkan perubahan perilaku yang baik.

Dengan populasi Lapas yang terus meningkat setiap tahun, pembinaan produktif dianggap sebagai kebutuhan mendesak. Hal ini dilakukan agar fungsi lembaga pemasyarakatan benar-benar berjalan sebagai wadah rehabilitasi yang memulihkan sisi sosial sekaligus ekonomi bagi masyarakat luas. [yan]

BEKASI TOP