
BEKASI KOTA, POSBEKASI.com – Di sebuah sudut yang tenang di Kota Bekasi, tepatnya di Jalan Betok, Kelurahan Cimuning, Mustikajaya, terdapat sebuah oase bagi jiwa-jiwa muda yang sedang meniti jalan menuju kemuliaan. Di sinilah, berdiri pondok dan masjid Yayasan Pondok Pesantren Almarhamah Khairu Ummah, bukan sekadar sebagai bangunan fisik, melainkan sebagai rahim bagi lahirnya generasi penjaga Al-Qur’an yang bermartabat.
Kisah Muhammad Ramdani adalah bukti nyata betapa kuatnya tekad jika dipadu dengan bimbingan yang tulus. Remaja berusia 15 tahun ini menunjukkan bahwa status sebagai anak kurang beruntung atau berasal dari keluarga tidak mampu bukanlah penghalang untuk mencapai derajat yang tinggi di mata manusia dan Sang Pencipta.
Melalui metode Tasmi’ Hifozil Qur’an “sekali duduk”, Ramdani berhasil menuntaskan ujian hafalan Juz 28, 29, dan 30.
Predikat Syahada yang ia raih di bawah asuhan Ustazah Mia Budi Prasetyati dan penguji Ustadz Heru Supriadi menjadi saksi bisu bahwa di Almarhamah, setiap santri didorong untuk melampaui batas kemampuan mereka.
Cahaya Cimuning
Yang membuat cahaya di sudut Cimuning ini semakin terang adalah prinsip ketulusan yang dipegang teguh Yayasan Almarhamah.
Sejak berdirinya Yayasan ini tahun 2006, di bawah kepemimpinan Ustadz H. Mohammad Subchansyah, ST, MT, pesantren ini konsisten memberikan pendidikan gratis bagi anak yatim, piatu, dan dhuafa.
Almarhamah tidak hanya memberikan tempat bernaung, tapi juga masa depan. Terbukti, alumni angkatan pertama telah sukses merengkuh gelar sarjana dan kini telah mandiri secara ekonomi.
Setiap hari, sepulang sekolah formal, para santri tidak membuang waktu. Mereka menyetor hafalan, berinteraksi dengan ayat-ayat Tuhan, dan menempa karakter di bawah asuhan para pengurus yang berdedikasi.
Keberhasilan Ramdani adalah representasi dari visi besar Almarhamah “bahwa kemiskinan harta dan keluarga yang tak utuh tidak boleh berbanding lurus dengan kemiskinan cita-cita.”
Dengan dukungan para donatur dan ketulusan pengelola Almarhamah, anak-anak yang semula dianggap “lemah” oleh tatanan sosial, kini bertransformasi menjadi pribadi-pribadi bermental baja yang kaya akan ilmu agama.
“Alhamdulillah, Mumtaz. Satu demi satu santri dapat menyelesaikan tahfidz,” ungkap Ustadz Subchansyah dengan rasa syukur yang mendalam atas keberhasilan santri Ramadani.
“Setiap ayat yang dihafalkan oleh Ramdani dan kawan-kawannya adalah doa yang mengangkasa, sekaligus bukti bahwa di Almarhamah Khairu Ummah, mimpi anak yatim, dan keluarga tak mampu bukan hanya untuk dipendam, melainkan untuk diwujudkan,” tutur Ustadz Subchansyah. (Hasby)

