Bekasi Online

Kenangan Kaos Swan, Pak Tino Sidin “Ya Bagus”

Pak Tino Sidin dan Penulis.

POSBEKASI.COM – “ Ya bagus ….”, kalimat pujian Pak Tino Sidin untk setiap karya anak-anaka yang ditampilkan dalam acara “Gemar Menggambar”. Secara pribadi saya belum pernah melihat langsung Pak Tino Sidin. Namun sejak SD sampai SMA saya sangat menggandrungi acara gemar menggambar.

Pada suatu ketika Pak Tino memperbaiki mobilnya ke bengkel tetangga saya bapak Anwar Hardani. Keluarga bapak dan ibu Anwar tahu kalau saya suka menggambar dan menggemari acara gemar menggambar yang dibawakan Pak Tino.

Pak Anwar tidak melepas kesempatan baik ini begitu saja, tanpa ragu meminta tanda tangan di sebuah kaos t-shirt merk Swan kalau tidak salah untuk di tandatangani oleh Pak Tino Sidin.

Di belakang kaos tandatangan besar dibagian belakang bawah lobang leher dan dibawahnya twrtulus Tino Sidin.

Saya mendapat kaos itu sangat bahagia dan bangga. Hampir setiap hari saya pakai. Setelah dicuci kering pasti akan saya pakai. Bahkan diacara-acara kumpul bersama temanpun kaos ini menjadi kebanggaan saya.

Saya lupa kapan kaos itu tidak saya pakai lagi, seingat saya kaos itu sampai tidak layak pakai dan saya menyampaikan kepada ibu saya agar tidak dijadikan kain lap atau pel, karena ada tanda tangan pak Tino Sidin.

Setiap ada artikel tentng Tino Sidin saya tergerak membacanya dan rasa haru serta bangga muncul dalam diri saya. Pak Tino luar biasa. Cara mengajarnya sederhana dengan menunjukkan lengkung-lngkah dan garis bulat, semua dihubung-hubungkan menjadi bentuk-bentuk gambar yang disukai anak-anak.

Kalimat jangan takut inipun memotivasi anak-anak untuk tidak ragu-ragu dalam menggambar. Semua digambarkan dengan garis-garis yang tegas tidak ada ragu atau menghapus yang keliru. Saya tidak tahu berapa banyak murid pak Tino Sidin yang menjadi pelukis atau seniman. Namun roh dan semangat untuk mencintai dan mengapresiasi karya seni inilah yang saya kira dimiliki banyak orang di semua lini dan berbagai profesi.

Menggambar bukan sekedar hobi atau milik orang-orang berbakat semata, melainkan milik semua anak-anak hingga orang dewasa. Mungkin kita masih ingat karya anak-anak yang bagai benang kusut dan karya naifnya yang menggelikan.

Ternya banyak pelukis-pelukis dunia yang menggunakan gaya itu. Sebut saja Jackson Pollock, Jean Michael Basquiat, gaya anak-anak menggambar menulis dijadikan satu karya. Gambar menurut S Soedjojono merupakan refleksi jiwa yang nampak. Bapak seni rupa modern inipun menggunakan nama ahli gambar untuk perkumpulan yang didirikanya.

Gambar seringkali dimaknai sebagai bentuk corat coret belaka, namun itulah refleksi jiwa. Pada test psikologi gambar dijadikan alat untuk mengetahui psikis atau kejiwaan seseorang. Bagi anak-anak menggambar pelajaran rekreasi.

Sayang, ide kreatif anak-anak dikunci dan dimatikan oleh guru-gurunya. Sebagai contoh, ketika ada perintah menggambar pemandangan, apa yang terjadi? Anak-ank diajarkan menggambar dua gunung, jalan lurus, sawah, matahari di tengah diantara 2 gunung, pohon kelapa.

Semestinya, menggambar pemandangan bisa apa saja yang kita pandang. Di sini kelebihan pak Tino Sidin, walaupun memberi contoh namun tidak pernah mematikan ide kreatif.

Gemar menggambar seingat saya ada segmen pembuka untuk memotivasi inspirasi bagi anak-anak, bahwa menggambar apa saja bisa dimulai dari lengkung garis bulat dengan garis-garis tegas yang tidak takut-takut. Segmen berikutnya adalah menunjukkan karya anak-anak yang dikirim ke studio TVRI.

Sangat banyak karya yang dikirim, ada satu nama yang saya ingat yaitu Surya Gangga. Entah sekarang menjadi apa. Karya Surya Gangga menurut saya sangat menonjol dibanding kawan-kawan lainnya.  Pak Tino Sidin selalu memberi pujian, “Ya bagus….”.

Kaya itu yang juga menginspirasi saya untuk memuji atau menanggapi sesuatu dengan 3 huruf “gut”.  Memang sangat singkat, namun maknanya dalam sebagai apresiasi, motivasi dan pengakuan untuk tidak takut-tkut, walaupun tidak semua happy dengan jawaban sany yang singkat tadi.

Pak Tino Sidin kini tinggal kenangan. Namun rasa bangga terus tertanam. Beliau telah menumbuhkan banyak pecinta seni. Menjadi apa saja, tatkala mampu mencintai, mengapresiasi dan menikmati karya seni akan semakin manusiawi. Seni itu pengasah hati, untuk merawat taman kemanusiaan. Kesederhanaan dan tulusan pak Tino Sidin untuk menjadi guru gambar menjadi catatan sejarah seni rupa Indonesia yang melegenda.

Baret baju batik dan kalimat “Ya bagus” menjadi ikon Tino Sidin, yang selalu setia dengan nyontoni, ngancani dan memotivasi untuk para muridnya. Sang guru tetap akan ada di qalbu sepanjang hayat. Ya bagus, garis, lengkung dan jangan takut-takut akan terus menggelora sebagai passion menggambar di qalbu anak-anak.[Penulis- Cryshnanda Dwilaksana]

BEKASI TOP