Bekasi Online

Kado 20 Tahun Kota Bekasi, Generasi “Tawuran”

Kantor Pemko Bekasi.[RAD]
Kantor Pemko Bekasi.[RAD]
POSBEKASI.COM – Bagaikan seorang gadis, Kota Bekasi ‘berhias’ dan berbenah membangun visi misinya, berbagai infrastruktur menuju Kota Metropolitan patut diapresiasi warga Kota Bekasi, terlebih diusianya yang ke 20 tahun.

Beberapa kutipan dari orang bijak, di usia 20 tahun adalah gerbang menuju kedewasaan dan di usi itu pula dituntut untuk ‘lebih’ dalam segala hal, baik pola pikir, kinerja atau belajar mengurus semua hal untuk masa depan yang gemilang.

Dalam usia 20 tahun bukan lagi mencari jati diri tetapi telah menemukan apa yang mau dikerjakan atau diraih. Karena usia 20 tahun adalah momen perkembangan jati diri menuju kematangan.

Tentu saja, Pemerintah Kota Bekasi tidak sekedar berhias dalam berbagai infrastruktur tetapi juga membenahi warganya.

Sudah banyak yang dilakukan duet kepemimpin Rahmat Effendi dan Ahmad Syaikhu sebagai pemimpin Kota Bekasi.

Tidak saja sebatas pembangunan infrastruktur dan memperbaiki apa yang telah dibangun, tetapi berbagai faktor seperti cuaca atau alam masih banyak ‘lubang’ jalan yang terlewatkan.

Di usia 20 tahun, sebagai manusia tentulah bukan usia muda tapi juga bukan usia yang tua pula. Faktor usia ‘ditengah’ ini sering kali manusia ‘merasa’ serba bisa dan semua bisa dilakukannya.

Meski kemampuan dan keahlian di usia itu memiliki kecermelangan namun terkadang lupa bahwa usia 20 tahun belumlah cukup ‘matang’.

Usia 20 tahun adalah usia meranjak dewasa menuju kematangan. Pada saat mernanjak dewas ini pula yang banyak terlupakan di masa remaja atau anak-anak. Karena usia itu sudah menatap ke depan bahkan ke atas, tidak lagi melihat ke bawah.

Keberhasilan-keberhasilan dari berbagai hal yang di ukir empat tahun terakhir ini oleh duet PAS jujur harus kita apresiasi.

Namun, perlu pula untuk diingatkan. Apalagi untuk mengkahiri masa periode PAS yang hanya tinggal hitungan bulan. Karena mendekati Pilkada tahun 2018, tidak saja elit politik tetapi juga masyarakat akan terkosentrasi pada ‘persilatan’ menuju kursi nomor 1 di Kota ini.

Bagi masyarakat awam, persilatan politik bukan menjadi masalah yang besar. Bagi mereka yang terpenting siapapun pemimpinnya harus memiliki kredibiltas dan dedikasi serta naluri mengutamakan masyarakatnya.

Masyarakat tidak saja sekedar butuh eknomi yang lebih, tapi juga perlu ketenangan, kenyamanan, keamanan tanpa ada kekhawatiran.

Akhir-akhir ini, orang tua yang memiliki putra-putrinya di bawah 20 tahun atau masih di duduk bangku SMP dan SMA sederajat, justru kian khawatir.

Mengapa? Sejenak kita lihat persoalan yang ada secara kasat mata. Tawuran demi tawuran menjamur seperti tidak berkesudahan di Kota yang kita cintai ini.

Mereka, anak-anak kita tampak seperti tidak melakukan apa-apa saat di rumah. Tetapi setelah mereka melangkah dari rumah, menjadi sang ‘algojo’ menghabisi nyawa teman seusianya.

Kini, kecemasan orangtua berubah menjadi ketakutan. Karena kerab kita dengar, kita baca, kita tonton bahkan kita lihat langsung betapa ‘sadis’nya anak-anak kita saling baku hantam, saling keroyok, sampai saling bacok.

Betapa tidak, semakin hari semakin tidak ada lagi belas kasihan, tak ada lagi sayang menyayangi, tak ada lagi harga menghargai dan tak ada lagi hormat menghormati.

Yang ada kita dengar dan lihat, kucuran air mata orangtua tatkala melihat jasad anaknya terbaring berlumuran darah. Nyawa pun sudah tak lagi berharga.

Lalu, bagaimana persoalan tawuran ini? Apakah semua kita bebankan pada aparat khsusunya Polri? Tentu saja Polri tidak bisa bekerja sendiri tanpa kita semua.

Peran orangtua wajib, begitu pula peran pemerintah tidak boleh diam membiarkan hal ini terus berlarut-larut dan melimpahkan semua pada Polri.

Peran pemerintah dalam hal ini Pemko Bekasi dalam usia 20 tahun ini sepatutnya bersama orangtua dan Polri untuk memecahkan aksi tawuran ini guna mendapatkan solusi tebaik untuk anak-anak kita semua.

Seyogyanya Visi “Bekasi Maju, Sejahtera dan Ihsan”, berjalan seiring, tidak hanya ‘Maju dan Sejahtera’ seperti yang kita apresiasi diatas. Tetapi ‘Ihsan’ yang tertinggal dapat menghancurkan generasi muda Kota Bekasi sehingga apalah artinya ‘Maju dan Sejahtera’ tanpa generasi yang Ihsan? [Hasibuan HA Sofyan-Pemipin Umum]

BEKASI TOP