Posbekasi.com

Jenderal Iran Incar Trump dan Netanyahu, Balas Dendam untuk Khamenei

Mayor Jenderal Mohsen Rezaei, penasihat militer Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Mojtaba Khamenei, mengobarkan balas dendam atas kemartiran Ayatollah Ali Khamenei. Foto/Asharq al-Awsat

TEHERAN, POSBEKASI.com Mayor Jenderal Mohsen Rezaei, penasihat militer Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Mojtaba Khamenei, mengobarkan balas dendam atas kemartiran mantan pemimpin tertinggi Ayatollah Ali Khamenei. Dia mengisyaratkan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dan Perdana Menteri (PM) Israel Benjamin Netanyahu sebagai target pembalasan. “Balas dendam strategis tentu harus dicapai agar jalan menuju kemajuan kita tetap terbuka,” kata mantan Panglima Tertinggi Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran tersebut dalam wawancara dengan televisi Iran, yang dikutip Fars News, Kamis (9/7/2026).

“Dua individu yang bertanggung jawab atas pembunuhan pemimpin yang telah gugur tidak boleh lolos dari pembalasan,” kata Rezaei, merujuk pada Trump dan Netanyahu.

Rezaei menyampaikan pernyataan tersebut saat membahas partisipasi publik yang berjumlah jutaan orang dalam upacara perpisahan dan prosesi pemakaman Khamenei, menggambarkan jumlah peserta tersebut sebagai puncak dari gerakan populer yang lebih luas daripada peristiwa terisolasi.

Menurutnya, upacara-upacara tersebut mewakili tahap terbaru dari sebuah proses yang telah berkembang dari perlawanan bangsa Iran dalam menghadapi agresi musuh yang tidak beralasan menjadi partisipasi politik yang lebih luas yang memperoleh dimensi ideologis dan berbasis keyakinan.

“Dengan kata lain, pemikiran dan jalan pemimpin yang gugur telah melampaui kehadiran fisiknya dan telah tertanam dalam masyarakat dan di antara rakyat Iran, mendekatkan mereka,” paparnya.

“Hari ini, kemarahan revolusioner dan kemarahan suci telah muncul di antara rakyat Iran karena seorang pemimpin yang sangat mereka cintai telah menjadi martir, bersama keluarganya, oleh Amerika Serikat dan Israel. Kemarahan ini disertai dengan kesadaran dan kebangkitan yang lebih besar,” imbuh dia.

Ayatollah Ali Khamenei meninggal pada hari pertama agresi gabungan AS dan Israel 28 Februari, yang pada akhirnya memicu perang yang meluas di Timur Tengah. Sementara itu, Trump mulai menyuarakan kekhawatiran akan hidupnya dengan mengeklaim Iran telah berencana untuk membunuhnya.

Berbicara kepada wartawan di sela-sela KTT NATO di Turki pada hari Rabu, Trump mengatakan bahwa meskipun dia “beruntung” selama ini, itu mungkin tidak akan terus berlanjut. “Mereka ingin menyingkirkan pemimpin AS, saya. Saya ada di setiap daftar,” kata Trump.

“Saya melihat sesuatu pagi ini, saya ada di setiap daftar mereka. Dan sejauh ini, saya kira saya sedikit beruntung. Tapi mungkin itu tidak akan bertahan lama,” imbuh dia.

Komentar Trump muncul setelah dia menyatakan Nota Kesepahaman (MoU) dengan Iran berakhir. Dia menyebut para negosiator Iran sebagai “sampah”. “Saya sama sekali tidak menyukai mereka. Dan terus terang, saya pikir kita telah membuang banyak waktu dengan mereka, saya pikir kita seharusnya hanya melakukan urusan kita sendiri,” kata Trump dalam pernyataan pertamanya setelah AS menyerang 80 situs di Iran pada Rabu. “Mereka orang-orang yang kejam dan brutal…sejauh yang saya ketahui, ini sudah berakhir,” imbuh Trump.

Trump menambahkan bahwa perwakilan AS dapat melanjutkan negosiasi, tetapi dia meragukan hasilnya. “Mereka bisa berbicara, tetapi saya pikir mereka membuang-buang waktu,” katanya.

 

Sumber: SindoNews

BEKASI TOP