Posbekasi.com

“MESIR Vs ARGENTINA + WASIT”

Skor akhir pertandingan Piala Dunia 2026, Mesir Vs Argentina 2-3 pada Selasa (7/7/2026) malam hingga Rabu (8/6/2026) dinihari. Posbekasi.com / Ist

BEKASI KOTA, POSBEKASI.comMESIR berhasil menghentak dunia persepakbolaan melalui permainan bertempo tinggi dan kencang saat melawan juara bertahan, Argentina. Meski menghadapi lawan tangguh, semangat tempur pasukan Mesir sama sekali tidak mengendur. Gol pertama laga ini diciptakan oleh Yasser Ibrahim pada menit ke-15 yang sukses membobol gawang Argentina. Sejatinya, Lionel Messi memiliki peluang emas untuk menyamakan kedudukan menjadi 1-1 melalui hadiah penalti. Namun, tendangan bintang Argentina tersebut gagal membuahkan gol setelah berhasil ditepis secara heroik oleh penjaga gawang Mesir, Mostafa Shobeir.

Memasuki menit ke-58, Mustafa Zico sempat mencetak gol kedua yang luar biasa untuk Mesir melalui skema serangan balik yang sangat apik. Sayangnya, petugas teknologi video (VAR) memanggil wasit asal Prancis, François Letexier, untuk meninjau ulang permainan. Gol tersebut akhirnya dianulir dengan alasan telah terjadi pelanggaran terlebih dahulu oleh pemain Mesir, Marwan Attia, di awal serangan.

Meski satu gol dianulir, Mesir tetap bermain spartan hingga papan skor terus bergerak secara dramatis. Setelah keunggulan 1-0 Mesir di babak pertama dan dianulirnya gol Zico pada menit 58, Argentina akhirnya berhasil memperkecil kekalahan sekaligus menyamakan kedudukan lewat gol Cristian Romero pada menit ke-79.

Duel pasukan Moh Salah dan Messi ini berlangsung sengit ketika lewat tendangan kaki kiri Lionel Messi pada menit ke-83, kedudukan menjadi imbang 2-2. Drama akhirnya ditutup di masa injury time menit 90+3, Enzo Fernandez mencetak gol kemenangan yang mengubah kedudukan akhir menjadi 3-2, sekaligus meloloskan sang juara bertahan ke babak perempat final.

Kritik Fair Play dan Label “Anak Emas

Piala Dunia kali ini terasa tidak fair play. Selain isu campur tangan Donald Trump yang menangguhkan kartu merah pemain AS, FIFA dinilai terlalu menganakemaskan Argentina. Wasit tampak menyudutkan Mesir lewat kebijakan-kebijakan yang menguntungkan Argentina. Hal ini membuat pertandingan seolah-olah dimenangkan oleh pihak wasit dan anak emas FIFA.

Berbagai ocehan dan kritik dari netizen pun bertaburan di media sosial. Salah satu netizen menyindir bahwa ” sepanjang pertandingan berlangsung, wasitlah yang memiliki skill paling bagu”.. Netizen lain menyebutkan bahwa ” juara bertahan bisa menang karena sistem berpihak kepada mereka, yaitu dari sektor wasit dan pengontrol VAR”.

Ada juga penggemar Argentina yang mengakui bahwa sudah menjadi rahasia publik mengenai siapa anak emas FIFA sesungguhnya, dan menilai drama pengaturan Piala Dunia kini semakin transparan di mana aturan berada penuh di tangan FIFA dan petugas lapangan hanya mendapat mandat dari setingan tersebut.

Kritik tajam juga menyoroti standar ganda VAR, di mana saat gol Zico wasit langsung sigap memeriksa VAR untuk menganulirnya, namun saat Enzo Fernandez mencetak gol, wasit tidak segera mengecek VAR padahal sebelum gol terjadi ada dua pelanggaran nyata, yaitu tarikan di kotak penalti dan momen saat Mo Salah terjatuh. Netizen lain pun menyindir dengan ucapan terima kasih kepada Wasit Francois Letexier dan menyebutnya telah resmi menjadi keluarga FIFA, yang ditutup dengan sarkasme berupa coretan silang untuk laga Mesir vs Argentina dan tanda centang untuk laga Mesir vs wasit FIFA.

Tensi duel tidak hanya terjadi di dalam lapangan. Wasit François Letexier sangat rajin mengacungkan kartu kuning kepada para pemain Mesir. Bahkan di pinggir lapangan, ia juga menghadiahi kartu kuning kepada pelatih Mesir, Hossam Hassan, di penghujung babak kedua. Keputusan Letexier yang membiarkan terjadinya pelanggaran di kotak penalti sebelum gol ketiga Argentina juga membuat bintang Mesir, Mohamed Salah, meluapkan kemarahannya. Dalam duel di rumput hijau ini, Mesir tidak sekadar melawan Argentina, tetapi juga ‘melawan’ sang pengadil yang dianggap penonton sebagai “wasit kibi” di mata dunia.

Kontroversi Grup G dan Skandal Luar Lapangan

Sebelumnya, keanehan dan kontroversi besar sudah menyelimuti laga Grup G pada Jumat malam (26/6/2026) antara Iran dan Mesir di kota Seattle, AS, menyebut pertandingan ini bertajuk “Pride Match,  resmi pertama dalam sejarah Piala Dunia, sebuah laga yang ironis karena kedua tim berasal dari negara konservatif di mana komunitas LGBTQ+ ditolak atau bahkan mendapat ancaman pidana.

Piala Dunia kali ini juga menyisakan kepahitan mendalam dan mencederai rasa keadilan bagi Timnas Iran. Sejak ketegangan”Perang Iran Vs Israel – AS” memuncak, Donald Trump sempat tak mengizinkan Iran bermain di AS. Sentimen tersebut berlanjut selama mereka merumput di negeri Paman Sam, di mana skuad Iran dilarang tinggal menetap di AS.

Dampaknya, setiap kali hendak bertanding maupun setelah selesai bertanding, mereka dipaksa langsung meninggalkan AS dan kembali ke basecamp di Meksiko. Meski ditekan habis-habisan, Iran pulang dengan kepala tegak tanpa pernah kalah selama bermain di lapangan. Seluruh pertandingan mereka berakhir dengan skor remis, yaitu Iran vs Selandia Baru berakhir 2-2, Iran vs Mesir berakhir 1-1, dan Iran vs Belgia berakhir 1-1.

Di sisi lain, skandal besar yang sangat memalukan dan baru terjadi dalam Piala Dunia, ketika Trump dikabarkan menelepon FIFA untuk meminta agar kartu merah yang diterima pemain AS, Folarin Balogun, ditangguhkan agar bisa bermain melawan Belgia di babak 16 besar Piala Dunia 2026. Secara mengejutkan, FIFA mengabulkan permintaan tersebut. Tapi, Belgia berhasil mengubur AS dengan kemenangan 4-1.

Ungkapan bahwa “bola hanya bundar di lapangan tapi gepeng di luar lapangan” adalah metafora menggambarkan betapa politik, drama, dan keputusan wasit sering kali mengaburkan murninya permainan 90 menit di atas rumput hijau.

Mesir mungkin kalah di papan skor, tetapi mereka memenangkan hati banyak penonton lewat perlawanan sengit mereka.

Inilah wajah Piala Dunia 2026 yang kini bersiap memasuki babak 8 besar atau perempat final.

 

Oleh: Bapak Hasibuan

BEKASI TOP