Posbekasi.com

Parlemen: Sistem PPDB Gagal

Kick Off PPDB Jabar 2024. [PosBekasi.com /Disdik Jabar]

posBEKASI.com | JAKARTA – Wakil Ketua Komisi X DPR RI, Dede Yusuf, menilai Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) yang diberlakukan pemerintah gagal, karena orang tua murid cenderung tetap memilih sekolah favorit. Sikap itu terjadi hampir di semua daerah. Konsep itu dianggap gagal di dalam melaksanakan konsep penerimaan siswa baru karena yang tujuan awalnya untuk menghilangkan sekolah favorit, ternyata tidak tercapai.

“Orang tua masih terus memburu sekolah favorit dan sasaran PPDB agar calon siswa yang berada di sekitar sekolah bisa masuk ke sekolah terdekat, ternyata tidak terbukti,” ujarnya dalam diskusi Dialektika Demokrasi ‘Mencari Solusi Menuju PPDB yang Transparan dan Efektif’ di Jakarta, Kamis (4/7/2024).

Sistem PPDB yang sudah tujuh tahun sudah pantas diganti. Dia mengatakan lagi, cari formula baru yang lebih adil dengan sistem prestasi atau melalui tes sekalipun  orang orang tua murid memang ingin anaknya masuk ke sekolah tertentu.

“Konsep ini gagal, tidak perlu berlanjut. Tahun ini  ada presiden baru, menteri baru, sehingga harus kita ubah,”kata Dede.

Masalah yang paling mendasar menurut Dede, adalah masalah rasio jumlah sekolah dengan jumlah siswa yang tidak seimbang. Akibatnya sistem zonasi yang digunakan pada system PPDB tidak bisa diterapkan sepenuhnya karena  kekurangan jumlah sekolah.“Masalahnya adalah yang belum diselesaikan oleh negara adalah jumlah sekolah. Jadi kalau kita berbicara kenapa PPDB dan sistem zonasi gagal ini masih terjadi terus-menerus karena jumlah sekolah dan jenjang pendidikan tidak sama dengan jumlah siswa yang lulus,” ungkap  Dede.

Untuk itu solusinya dibutuhkan sekolah baru. Tetapi masalahnya pembangunan sekolah baru domainnya di Kementerian PUPR, sehingga diperlukan pembicaraan masalah itu dengan komisi lain di DPR RI.

Menurut Dede. Kalau 20 persen anggaran Kemendikbud dari APBN sebenarnya cukup. Namun masalahnya anggaran itu  tersebar di pendidikan negeri dan swasta.

Dede juga meminta agar anggaran pendidikan yang jumlahnya mencapai 20 persen dari jumlah APBN difokuskan di Kemendikbud agar pembangunan sekolah baru bisa dilakukan. Dia mengatakan selama ini anggaran pendidikan menjadi minim karena tersebar di sejumlah kementerian lain sehingga tidak cukup untuk membangun sekolah.

“Kami (maksudnya) Komisi X DPR akan perjuangkan anggaran pendidikan. Kita mencari formula adanya sekolah semuanya favorit. Karena itu saya senang kembalikan anggaran pendidikan ke kementerian pendidikan,”tukas Dede.

Terkait dengan masalah itu  Dede mengemukakan bahwa Komisi X DPR meminta pemerintah membentuk Satgas pengawasan PPDB dengan melibatkan ombudsman, pemerintah daerah, dan Kemendikbud. Sedangkan opsi yang kedua adalah jika PPDB ini lebih banyak penyimpangan maka sistem itu harus kembali kepada tes.

Dede juga membenarkan, saat ini pemerintah telah melakukan perbaikan pada sistem PPDB. Semisal pada sistem zonasi yang tidak lagi melihat Kartu Keluarga (KK) melainkan pada data di Dapodik.

Dengan demikian, ketika seorang calon siswa mendaftar dengan memilih sekolah terdekat sesuai KK, maka yang dilihat adalah sekolah asal siswa tersebut. Jika ternyata sekolah sebelumnya dari tempat yang jauh, maka pendaftar tersebut akan dinyatakan tidak lolos verifikasi. [zul]

BEKASI TOP