TIPS UNTUK SARJANA YANG MASIH MENGANGGUR

POSBEKASI.COM | BANDUNG – Sahabatku, Apa saudara termasuk dalam kategori judul tulisan ini? Jika benar, maka tenanglah. Mungkin saudara protes: “Aa, tenang bagaimana? Saya sudah 50 kali mengirim lamaran tetap saja belum diterima.” Tidak masalah. Meski uang habis untuk foto copy, tetap tenang. Karena itu memang rezeki tukang foto copy. Uangnya juga milik Allah, dan nanti pasti ada lagi.

Teruskan saja ikhtiar. Jangan sampai mengiba atau menangis kepada orang. Misalnya, “Tolonglah pak, terima saya bekerja. Saya benar-benar sudah tidak sanggup melihat teman-teman sekelas yang sudah bekerja naik mobil. Sedangkan saya masih mondar-mandir foto copy.” Memangnya bapak yang dimintai tolong itu siapa? Kita sama-sama makhluk, dan sama-sama bukan Pemilik Kehidupan ini.

Mengibalah kepada Allah. “Ya Allah, sudah lima tahun saya jadi sarjana pengangguran. Tolong ya Allah. Saya akui bahwa saya ujub sebagai sarjana dan sering meremehkan teman-teman yang tidak kuliah. Saya melupakan-Mu sebagai Pemberi Rezeki. Astaghfirullah. Saya akui sebagian gelar yang saya dapat sebagai hasil mencontek dan menjiplak. Selama kuliah saya jarang salat berjamaah. Astaghfirullah. Engkau pasti mengetahui segalanya. Ampunilah saya, ya Allah.”

Yang begitu jauh lebih efektif daripada keujuban dan kesombongan. Seperti menganggap gelar sarjana sebagai jaminan didapatnya sebuah pekerjaan. Karena Allah juga pasti melihat penyesalan seorang hamba-Nya. Amat gampang bagi Allah memberi kita pekerjaan. Tetap tenang. Teruskan saja berdoa, memohon ampun, dan berikhtiar.

Rasulullah saw bersabda: “Barang siapa menjaga istighfar, maka Allah menjadikan baginya jalan keluar dari setiap kesulitan atau kesempitannya, melepaskannya dari setiap kesusahan, dan Allah memberinya rezeki dari tempat yang tidak diduga-duga.”(HR. Imam Abu Daud)

Nah, sahabatku. Kalau kita bertobat, maka tidak hanya satu, tapi Allah menjanjikan tiga. Yang pertama, galau kita akan diambil sebab Allah yang membolak-balik hatiini. Yang kedua, Allah akan memberi jalan keluar bagi setiap masalah kita. Dan, yang ketiga, bakal ada bonus rezeki dari tempat yang tak diduga-duga.

Ketika kita galau karena masih menganggur, atau ada masalah lainnya, maka rumusnya bukan sibuk memikirkan kepengangguran atau persoalan yang dihadapi. Tapi mohonlah ampunan-Nya. Jika sibuk memikirkan, tidak akan selesai.

Kalau sibuk memikirkan, bisa semakin galau atau bermasalah. Ibarat orang yang tidak konsentrasi sedang menyeduh kopi, lalu tanpa sadar yang diaduk shampo. Saat memasak menambahkan garam sampai dua bungkus. Karena pikirannya sibuk pada sesuatu. Atau, seperti saat ada yang cemburu, kemudian sibuk memikirkan yang dicemburui sampai darah mendidih, otak matang dan akhlak pun rusak.

Tidak menyelesaikan masalah, malah bisa menambah masalah. Begitu kalau sibuk memikirkan kepengangguran kita. Ujungnya kelakuan bisa rusak. Seperti bukannya bertobat atas gelar sarjana yang hasil mencontek atau menjiplak, tapi malah melakukan lagi cara-cara yang tidak benar supaya mendapatkan pekerjaan atau uang. Misalnya memalsukan identitas dan seragam, lalu mengaku sebagai pejabat atau jenderal untuk menipu orang lain.

Harusnya segera bertobat. Menangisi dosa-dosa yang telah diperbuat, dan menangis syukur atas nikmat yang telah diberikan selama ini. Bersyukur kita diberi hidayah dan masih diberi umur untuk bertobat.

Sambil terus berikhtiar, yakinkan diri: “Ya Allah, Engkau yang menentukan di mana saya bekerja. Berikan saya tempat bekerja yang terbaik menurut-Mu, yang pekerjaannya tidak membuat saya menjauh dari-Mu.” Allah lebih mengetahui keperluan kita. Kalau kita sudah benar-benar berharap hanya kepada-Nya, nanti juga akan diberi.

Nah, sahabatku. Demikian pula ketika sudah bekerja. Jangan berbuat atau melakukan pekerjaan dengan ukuran uang. Karena akan sangat mudah mengeluh dan galau. Membuat malas, ataupun emosi di tempat kerja, sehingga bisa jadi malah di PHK.

Teruslah bekerja dengan bagus, walaupun misalnya gaji kita sebulan hanya Rp600 ribu. Berdoalah: “Ya Allah, sebetulnya ini tidak cukup untuk kontrakan, warteg juga sudah dikenakan pajak, danah sudahlah. Tidak perlu saya jelaskan kepada-Mu, karena Engkau juga pasti tahu. Selama ini pun selalu Engkau cukupi. Saya akan mengerjakan yang terbaik saja. Engkau yang lebih mengetahui dan yang mengurus semua keperluan saya.”

Bekerjalah dengan bagus hanya karena Allah. Bukan dengan ukuran uang, dan bukan karena ingin meraih pujian, jabatan, atau sertifikat karyawan teladan. Terlalu rendah diri kita kalau bekerja untuk mencari penilaian makhluk. Cukuplah Allah SWT.

Sumber : Buku Ikhtiar Meraih Ridha Allah #2 karya Aa Gym

KH. Abdullah Gymnastiar

Pin It

Comments are closed.