Posbekasi.com

OPINI: PAGAR LAUT TENGGELAM, TIMBUL PAGAR MAL

Ilustrasi

BEKASI KOTA, POSBEKASI.comFENOMENA sosial dan spasial di perkotaan besar Indonesia hari ini tengah mengalami pergeseran psikologis yang paradoks. Ketika diskursus publik sebelumnya sempat dihebohkan oleh perdebatan penguasaan ruang pesisir lewat narasi “Pagar Laut”, kini ruang-ruang publik di jantung metropolitan justru disergap oleh realitas baru “Pagar Mal”

Gejala ini bukan sekadar urusan arsitektur atau estetika tata kota. Ketika pusat-pusat perbelanjaan hingga sebagian perkantoran di Surabaya dan Jakarta latah membangun pagar pembatas dengan tinggi menjulang—yang kemudian viral di media sosial—ada sinyal kecemasan kolektif yang mengusik nalar. Publik berhak bertanya, “Berasa ada yang tidak benrar dalam keamanan nasional, khususnya di ibu kota negara, Jakarta?”.

Ironi Kemerdekaan di Balik Benteng Beton

Gelisahnya ruang publik kian terasa kontras ketika berbenturan dengan momentum sakral kebangsaan. Sejak 1 Agustus lalu, Sang Saka Merah Putih telah berkibar gagah di berbagai pelosok negeri menyambut Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-81.

Kemerdekaan yang seharusnya merefleksikan kebebasan, rasa aman, dan persatuan, justru berdampingan dengan pemandangan psikologis yang ganjil: para pelaku usaha berlomba-lomba mengurung diri di balik tembok beton dan pagar besi tinggi.

Menanggapi fenomena ini, Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, menyatakan bahwa Jakarta sejauh ini masih aman, meski ia menduga para pengusaha dan pebisnis diliputi rasa takut akan potensi kerusuhan.

Nada serupa disampaikan oleh Asisten Utama Kapolri Bidang Operasi (Astamaops) Komjen Polisi Fadil Imran. Ia memastikan situasi keamanan nasional terbilang kondusif dan menilai pemasangan pagar oleh pemilik properti sebagai hal yang wajar untuk pengamanan aset privat. Ia pun meminta masyarakat tidak terpancing narasi yang menyebut akan terjadi gangguan kamtibmas.

Namun, penjelasan normatif dari aparat dan pejabat publik tidak serta-merta meredam kegelisahan warga.

Dari Amnesia “Pagar Laut” Menuju Paranoia “Pagar Mal”

Jika ditarik lebih jauh ke belakang, gejala psikologis ini seolah mengulang pola amnesia kolektif yang kerap melanda negeri. Masih ingatkah kita pada kehebohan “Pagar Laut” yang sempat viral dan menyita perhatian nasional? Kasus penemuan pagar bambu misterius sepanjang 30,16 kilometer yang berdiri tanpa izin di perairan Kabupaten Tangerang, Banten, pada awal Januari 2025. Proyek pembentengan wilayah perairan yang memantik kemarahan nelayan itu kini seolah menguap begitu saja, tenggelam ditelan waktu tanpa kejelasan penegakan hukum.

Kini, pola mentalitas “pemagaran” yang sama bermutasi dan bangkit kembali di daratan dalam wujud Pagar Mal. Jika pagar laut dulu merampas ruang hidup nelayan di atas permukaan air, pagar mal hari ini merampas psikologi kenyamanan warga di jantung perkotaan. Ketika pelanggaran di laut dibiarkan tenggelam tanpa sanksi tegas, para pemilik modal di darat merasa mendapat legitimasi diam-diam untuk membangun benteng eksklusif—memperlebar jurang antara kemewahan korporasi dan realitas sosial di luar pagar.

Menakar Mentalitas Bisnis: Ada Apa dengan Pengusaha?

Pertanyaan mendasarnya kini mengarah langsung kepada para pemilik modal, *Kenapa rasa khawatir dan takut yang begitu akut justru menyelimuti mereka?”.

Pertama, apakah ada anomali dalam lini bisnis mereka? Apakah ada kecemasan bahwa bisnis yang dijalankan memiliki jangkar “hitam”—praktik manipulatif, pelanggaran hukum, atau akumulasi modal yang mencederai keadilan sosial, sehingga sewaktu-waktu rentan menjadi sasaran amuk massa?

Kedua, jika bisnis mereka bersih dan berjalan di atas jalur hukum, lantas dari mana datangnya ketakutan berlebihan tersebut? Apakah insting bisnis mereka menangkap ketidakpastian makroekonomi dan sosial-politik yang gagal dibaca oleh instrumen keamanan resmi, ataukah ini sekadar cerminan paranoia oligarkis yang kian teralienasi dari rakyat?

Menggugat Rasa Aman yang Hilang

Ketakutan korporasi yang termanifestasikan lewat pagar tinggi bukanlah solusi pengamanan yang solutif. Ia justru menjadi simbol hilangnya social trust (kepercayaan sosial) antara dunia usaha dan lingkungan sekitarnya.

Redaksi memandang, fenomena “Pagar Laut Tenggelam, Timbul Pagar Mal” adalah cerminan telanjang dari rapuhnya rasa aman di ruang publik kita hari ini. Jika negara terus membiarkan ruang-ruang kota dikepung oleh paranoia korporasi tanpa evaluasi mendalam terhadap akar kecemasan sosial, maka benteng-benteng besi tersebut bukan lagi sekadar pelindung aset, melainkan monumen kegagalan negara dalam menghadirkan rasa aman yang hakiki.

Sudah saatnya pengusaha keluar dari bayang-bayang ketakutan, dan pemerintah membuktikan bahwa hukum serta ketertiban berdiri tegak untuk semua, bukan hanya bagi mereka yang sanggup membeli tembok tertinggi.**

BEKASI TOP