Bekasi Online

Baru Semalam Dipasang di Seberang RE-Tri, Baliho Nur-Firdaus Langsung Raib

Kawasan Bekasi Barat: Baliho paslon cawalkot Nur – Firdaus raib (kiri), baliho paslon cawalkot RE – Tri utuh terpasang (tengah), baliho Nur – Firdaus sebelum raib (kanan).[IST]
POSBEKASI.COM, BEKASI – Setelah banner Calon Walikota (cawalkot) Bekasi, Nur Supriyanto dicopot anggota Satpol PP beberapa waktu lalu, kini giliran balihonya yang baru satu malam dipasang langsung “raib” seperti di telan “hantu” di kawasan Bekasi Barat, dan kawasan Pekayon dirusak dengan “coretan”.

Sementara vendor yang menyewakan speace billboard untuk iklan itu mengakui baliho pasangan calwalkot Bekasi Nur Supriyanto – Adhy Firdaus Saady, yang dipasang pada Rabu 24 Januari 2018 malam, raib pada Kamis 25 Januari 2018 pagi tadi.

Salah seorang tim pemenangan Nur – Firdaus, Afrinal menyebutkan, lenyapnya baliho di depan Mega Hypermart Bekasi merupakan tanggungjawab pihak vendor PT.Hartika Advertising.

“Dari klarifiksi ke vendor mereka bertangung jawab dan pengakuannya sudah meklarifikasikannya ke PKS Kota Bekasi. Tapi kita sesalkan baru semalam dipasang balihonya, paginya sudah lenyap,” kata Afrinal kepada Posbekasi.com, Kamis 25 Januari 2018.

Dibandingkan dengan baliho paslon cawalkot Rahamat Effendi – Tri Adhianto (RE-Tri) yang diusung partai Golkar, PAN, Demokrat, Hanura, PKB, Nasdem, PPP, terlihat utuh tidak ada yang rusak apalagi lenyap seperti baliho Nur – Firdaus yang diusung partai PKS dan Gerindra.

Kawasan Pekayon: Baliho paslon cawalkot Nur – Firdaus saat terpasang (kiri) dan sehari berubah penuh coretan (kanan).[IST]
“Padahal baliho kedua paslon cawalkot Bekasi ini hanya berseberangan saja, tapi baliho Nur – Firdaus baru semalam dipasang sudah langsung raib,” terangnya.

Afrinal meminta dihentikannya aksi yang dapat merusak demokrasi dengan membiarkan baliho calon pemimpin Kota Bekasi ini tetap utuh sebagai sosialisasi pada masyarakat.

“Sebaiknya baliho Nur-Firdaus dan baliho RE-Tri, sebagai pasang calon pemimpin Kota Bekasi direspon positif sebagai sosialisasi pada warga sehingga demokrasi berjalan dengan baik,” tuturnya.

Diduganya, untuk mengambil baliho berukuran 8 x 16 meter yang cukup lumayan besar itu tidak mudah dilakukan orang yang bukan ahlinya. “Kalau dilihat dari ukuran baliho tidak gampang untuk diturunkan, mestinya orang yang trampil yang melakukannya itu,” duganya.

Sementara, baliho Nur – Firdaus yang dipasang di kawasan Pekayon justru dirusak dan dicoret-coret dengan tulisan yang membuat pandangan tidak sedap dibaca.

“Soal baliho yang di Pekayon lagi dikonfirmasi rekan kita, tapi sampai saat ini belum ada respon. Kita tunggu klarifikasinya, seperti apa. Yang pasti ini ada perbuatan perusakaan dan yang di Bekasi Barat merupakan pencurian. Kasus ini bisa masuk pada pidana,” ujarnya.[POS2]

BEKASI TOP