Posbekasi

Hadapi Disrupsi dan Ketenagakerjaan, Ini 5 Pilar Kebijakan Pembangunan Jabar

Hadapi Disrupsi dan Ketenagakerjaan, Ini 5 Pilar Kebijakan Pembangunan Jabar.

POSBEKASI.COM | BANDUNG — Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Provinsi Jawa Barat, H. Syahrir, SE, M.I.Pol., secara tegas mengajak seluruh elemen masyarakat untuk menolak narasi pesimisme di tengah maraknya kecemasan publik mengenai masa depan ekonomi, keterbatasan lapangan kerja, dan tingginya biaya hidup.

Syahrir menekankan pentingnya membangun optimisme bernegara yang jujur dan terukur sebagai bahan bakar ideologis untuk mengubah berbagai tantangan struktural bangsa menjadi peluang kemajuan yang konkret.

“Pertanyaannya, apakah kita akan membiarkan rasa cemas itu mendikte dan menghentikan langkah anak-cucu kita? Opsi pesimisme itu jelas harus kita tolak. Bagi kita, optimisme bukanlah sebuah harapan kosong tanpa tindakan, melainkan keyakinan terukur untuk mengubah tantangan menjadi peluang,” ujar Syahrir, beberapa waktu lalu.

Menurut Syahrir, mewujudkan masyarakat yang adil, makmur, dan sejahtera tidak dapat diraih secara instan. Diperlukan peta jalan (roadmap) yang matang, konsistensi kebijakan, serta sinergi yang kokoh antara pemerintah dan seluruh elemen masyarakat.

Kendati demikian, ia mengingatkan agar optimisme tersebut tidak membuat semua pihak menutup mata dari realitas kontemporer yang dihadapi Indonesia, khususnya Jawa Barat sebagai salah satu penyangga utama ekonomi nasional.

“Saat ini kita berhadapan dengan tantangan nyata: disrupsi lapangan kerja dan tekanan ekonomi, akselerasi teknologi dan SDM, serta aksesibilitas layanan dasar hingga ke pelosok daerah,” ungkapnya.

Guna merespons berbagai tantangan riil di akar rumput tersebut, legislator Jawa Barat ini memaparkan lima pilar kebijakan strategis yang komprehensif. Kelima pilar tersebut meliputi transformasi SDM berbasis pendidikan vokasi untuk menyelaraskan kurikulum dengan kebutuhan industri modern, demokratisasi ekonomi melalui penguatan sektor UMKM, serta penyediaan jaring pengaman sosial yang presisi dan tepat sasaran.

Selain itu, Syahrir juga mendorong percepatan pembangunan infrastruktur konektivitas yang berkeadilan hingga ke perdesaan, serta penguatan rekonsiliasi sosial yang berbasis pada tradisi gotong royong.

Lebih lanjut, Syahrir menjelaskan bahwa esensi bernegara adalah kesepakatan agung untuk berjuang bersama secara kolektif, bukan sekadar menumpang hidup. Bangsa Indonesia dinilainya memiliki fondasi kokoh untuk tetap optimis karena didirikan oleh para pemenang yang pantang menyerah, didukung energi pemuda kreatif dan tradisi gotong royong.

Di akhir pernyataannya, Syahrir menyerukan agar masyarakat mengubah narasi kritik sinis menjadi kritik konstruktif yang melahirkan solusi demi mewujudkan keadilan sosial sesuai nilai luhur Pancasila.

“Optimisme bukanlah sikap pasif menunggu keadaan menjadi lebih baik, melainkan keyakinan aktif untuk bekerja bersama. Mari kita buang jauh-jauh rasa pesimis, rawat persatuan, jaga stabilitas, dan kita jemput masa depan Indonesia yang gemilang,” pungkasnya. [adk]

BEKASI TOP