
POSBEKASI.com, BEKASI KOTA — Maraknya aksi kekerasan, perundungan (bullying), hingga tindakan intimidatif yang melibatkan peserta didik di berbagai daerah menjadi alarm keras bagi dunia pendidikan Indonesia. Rentetan insiden yang terjadi sepanjang pertengahan hingga akhir Oktober 2026 ini dinilai memerlukan evaluasi menyeluruh agar sekolah kembali menjadi lingkungan belajar yang aman dan inklusif.
Menanggapi fenomena tersebut, Ketua Dewan Pembina Gerakan Literasi Nasional (GLN) Gareulis Jawa Barat yang juga Anggota DPRD Jawa Barat, H. Syahrir, S.E., M.I.Pol., menegaskan pentingnya pembenahan sistemik di lembaga pendidikan.
Syahrir yang kerab melakukan edukasi dengan memberikan literasi ke sekolah sekolah, menilai bahwa perbaikan proses belajar-mengajar harus berfokus pada pengembalian marwah pendidik, pembentukan karakter, serta penguatan literasi digital di sekolah.
“Sekolah harus segera mengembalikan hakikat utamanya sebagai ruang tumbuh yang aman, inklusif, dan memerdekakan bagi setiap anak—bukan tempat yang menyemaikan ketakutan, luka, atau trauma,” tegas Syahrir ketika dikonfirmasi menanggapi rangkaian tragedi di lingkungan pendidikan mencatat eskalasi yang mengkhawatirkan di beberapa wilayah, Sabtu (10/10/2026).
Catatan redaksi, eskalasi tragedi di lingkungan pendidikan di beberapa wilayah terjadi pada Juli 2026 lalu di Kota Bekasi, dugaan kekerasan verbal dan tindakan fisik oleh oknum pengajar di SMKN 1 Kota Bekasi memicu trauma berat pada peserta didik.
Eskalasi kekerasan memuncak pada akhir September 2026 di Kabupaten Pemalang, Jawa Tengah. Kasus perundungan yang melibatkan siswa sekolah dasar mengakibatkan seorang siswa kelas dua berusia 7 tahun meninggal dunia pada Rabu (30/9/2026).
Tak berhenti di situ, insiden berdarah kembali terjadi pada Sabtu (26/9/2026) di Kecamatan Sukawening, Kabupaten Garut, Jawa Barat. Seorang siswa SMA berusia 15 tahun menjadi korban penembakan peluru air gun yang diletuskan oleh kakak kelasnya saat acara pertemuan alumni SMP. Akibat kejadian tersebut, peluru logam menancap di bola mata kiri korban hingga harus menjalani perawatan medis secara intensif.
Syahrir menilai rangkaian peristiwa memilukan tersebut menunjukkan adanya ketimpangan relasi dan melemahnya wibawa tenaga pendidik di mata siswa, sehingga memerlukan pembenahan pola pengawasan di sekolah.
“Harus ada perbaikan sistem belajar mengajar yang saat ini terlalu lemah, sehingga siswa didik merasa lebih dominan dari guru pengajar dan kepala sekolah,” ujar Syahrir menyoroti aspek kedisiplinan dan hierarki di lingkungan sekolah.
Selain penataan etika dan kedisiplinan, politisi Partai Gerindra tersebut menggarisbawahi pentingnya penguatan literasi adaptif serta pengawasan ketat terhadap penggunaan gawai dan media sosial di kalangan peserta didik. Langkah ini dinilai krusial untuk mencegah penyebaran serta peniruan konten-konten kekerasan visual.
“Perlu adanya perbaikan mendasar dalam proses belajar mengajar serta literasinya. Selain itu, kemajuan teknologi harus dapat diadaptasi dengan baik, namun penggunaan gawai dan media sosial tetap harus dimonitor serta dibatasi—khususnya konten-konten yang mempertontonkan kekerasan visual yang direkam oleh anak didik kita,” pungkasnya. [adk]

