
POSBEKASI.com, GARUT β Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) melanda kawasan TPA Pasir Bajing, Kabupaten Garut, Jawa Barat, dengan merusak sekitar 3β4 hektare lahan serta memicu kepulan asap pekat yang mengganggu aktivitas masyarakat setempat. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat insiden ini sebagai salah satu kejadian yang mendominasi rentetan bencana karhutla di Indonesia dalam kurun waktu 24 jam terakhir hingga Jumat (9/10/2026).
“Asap kebakaran dilaporkan telah memasuki permukiman di Kampung Pasirbajing dan Jalan Raya GarutβBandung sehingga mengganggu jarak pandang pengguna jalan,” ungkap Plt. Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton SP Panjaitan, dalam keterangan tertulisnya diterima redaksi, Jumat (9/10/2016).
Tim gabungan dari BPBD Kabupaten Garut, Damkar, Dinas Lingkungan Hidup, hingga relawan TAGANA dan PMI dikerahkan ke lokasi untuk memadamkan api dan melakukan pemadaman menggunakan unit pasokan air serta alat berat. Selain mengisolasi api di TPA Pasir Bajing, petugas memperketat pemantauan guna memastikan kobaran api tidak merembet ke kawasan konservasi Kamojang, Gunung Guntur, maupun pemukiman warga sekitar.
“Proses pemadaman sempat menghadapi sejumlah kendala, antara lain keterbatasan peralatan untuk menjangkau titik api, kondisi sampah yang kering dan tebal sehingga api serta bara sulit dikendalikan, dan tiupan angin yang cukup kencang,” jelas Berton.
Selain di Jawa Barat, bencana karhutla juga melanda sejumlah daerah lain di Pulau Jawa dan Sulawesi. Di Jawa Tengah, kebakaran merusak 2 hektare lahan di Kabupaten Sragen, 6 hektare di Kabupaten Klaten, serta 5 hektare kawasan hutan pinus Perhutani di Kabupaten Cilacap. Sementara itu, di Jawa Timur, pembakaran sisa panen jagung memicu kebakaran 5 hektare lahan bambu di Kabupaten Jombang, dan di Sulawesi Tengah, 5 hektare lahan di Kabupaten Sigi masih dalam proses penanganan.
“Kejadian ini menjadi pengingat bagi masyarakat agar tidak membakar sisa hasil panen atau sampah secara sembarangan, terutama di sekitar vegetasi kering yang mudah terbakar dan dapat memicu perambatan api,” imbau pihak BNPB.
Menanggapi meluasnya potensi kebakaran akibat kondisi kemarau panjang, BNPB meminta seluruh pemerintah daerah, BPBD, dan masyarakat untuk memperketat deteksi dini serta kewaspadaan di wilayah masing-masing. Masyarakat diimbau untuk tidak membuka lahan dengan cara membakar, menahan diri membuang puntung rokok sembarangan, serta segera melapor jika mendapati munculnya titik asap.
“BNPB mengajak seluruh unsur pemerintah, petugas lapangan, dan masyarakat untuk memperkuat koordinasi serta mengutamakan keselamatan dalam setiap upaya penanganan bencana. Kesiapsiagaan dan respons cepat menjadi bagian penting untuk mengurangi risiko serta mencegah meluasnya dampak bencana,” tutup Berton. [amh]

