Posbekasi

Mengapa Bangsa Ini Tidak Bersatu, Seperti saat Mendukung Timnas Sepakbola?

Ilustrasi

POSBEKASI.com | Oleh : Drs. Muhammad Bardansyah. Ch. Cht.

Ada sebuah pemandangan menarik setiap kali Tim Nasional Indonesia bertanding. Untuk beberapa jam, Indonesia seperti menemukan kembali dirinya. Perbedaan pilihan politik seolah menghilang. Perbedaan suku, agama, profesi, kelas sosial, bahkan perbedaan pilihan klub sepak bola pun mendadak tidak terlalu penting.

Orang yang sehari-hari mungkin berbeda pandangan, duduk bersama, mengenakan warna yang sama, menyanyikan lagu yang sama dan berteriak untuk satu tujuan: Indonesia menang.

Ironisnya, persatuan seperti itu justru lebih sulit kita temukan dalam kehidupan sehari-hari. Di ruang publik, energi bangsa sering terkuras untuk mempertentangkan siapa yang paling benar.

Media sosial berubah menjadi arena perdebatan tanpa akhir. Pendukung tokoh politik berhadapan dengan pendukung tokoh lainnya. Perbedaan pilihan sering berubah menjadi permusuhan. Kritik dianggap serangan, sementara pembelaan terhadap tokoh dilakukan seolah-olah sedang membela kehormatan keluarga sendiri.

Pada saat yang sama, ada persoalan-persoalan bangsa yang jauh lebih penting dan menunggu untuk diselesaikan.Pendidikan masih membutuhkan pembenahan. Lapangan kerja harus terus diciptakan. Produktivitas petani dan nelayan perlu diperkuat. Industri nasional membutuhkan daya saing. Korupsi harus diperangi. Ketimpangan harus dikurangi. Desa harus diberi kesempatan menjadi pusat pertumbuhan ekonomi. Anak-anak Indonesia membutuhkan masa depan yang lebih baik.

Tetapi terlalu banyak energi masyarakat justru habis untuk bertengkar mengenai siapa yang harus dibela. Di sinilah kita perlu berhenti sejenak dan bertanya: apakah bangsa ini memang kelebihan orang yang mau berdebat, atau justru kekurangan orang yang mau bekerja bersama?

Kita Tidak Harus Sepakat untuk Bekerja Bersama dalam segala hal. Demokrasi memang membutuhkan perbedaan. Kritik diperlukan. Pemerintah harus diawasi. Kekuasaan harus dikontrol. Masyarakat memiliki hak untuk berbeda pendapat dan memilih pemimpin yang diyakininya.

Tetapi demokrasi tidak pernah mensyaratkan kita untuk saling membenci.

Kita boleh berbeda pilihan dalam pemilu, tetapi tetap bisa bekerja bersama membangun sekolah. Kita boleh berbeda pandangan mengenai kebijakan pemerintah, tetapi tetap bisa membantu petani meningkatkan produktivitas. Kita boleh berbeda pilihan politik, tetapi tetap bisa bergandengan tangan membersihkan lingkungan, membangun ekonomi desa, menciptakan lapangan kerja dan membantu anak-anak memperoleh pendidikan. Dengan kata lain, perbedaan pilihan politik tidak boleh menjadi penghalang bagi kerja kebangsaan.

Bayangkan kembali sebuah pertandingan Tim Nasional. Di tribun stadion, seorang pendukung mungkin berasal dari partai politik tertentu. Di sebelahnya ada pendukung partai lain. Di belakang mereka ada pengusaha, buruh, mahasiswa, guru, petani, birokrat dan pedagang kecil.

Mereka tidak perlu menyamakan pandangan politik terlebih dahulu untuk meneriakkan satu nama: Indonesia ! Mengapa kita tidak membawa semangat itu keluar dari stadion? Mengapa kita tidak memiliki lebih banyak agenda kebangsaan yang dapat mempertemukan orang-orang yang berbeda?

Dari Politik Dukungan Menjadi Politik Kontribusi

Mungkin sudah saatnya masyarakat Indonesia mengembangkan cara baru dalam memandang kehidupan berbangsa. Selama ini kita terlalu sering bertanya, “Kamu mendukung siapa?” Pertanyaan itu penting pada saat pemilu. Tetapi setelah pemilu selesai, ada pertanyaan yang jauh lebih penting: “Apa yang bisa kamu lakukan untuk Indonesia?” Pertanyaan kedua inilah yang seharusnya menjadi budaya baru.

Seorang pengusaha dapat membantu menciptakan lapangan kerja. Seorang akademisi dapat menghasilkan pengetahuan yang berguna bagi masyarakat. Seorang profesional dapat membantu desa mengembangkan usaha. Seorang mahasiswa dapat melakukan pengabdian yang benar-benar menyelesaikan persoalan. Seorang pejabat dapat memastikan pelayanan publik berjalan baik. Seorang jurnalis dapat menjaga ruang publik tetap sehat. Bahkan seorang pengguna media sosial dapat memilih untuk tidak menyebarkan kebencian dan informasi yang belum terverifikasi.

Tidak semua orang harus menjadi pejabat untuk memberikan kontribusi kepada negara, tidak semua orang harus masuk partai politik untuk mencintai Indonesia. Dan tidak semua bentuk pengabdian harus dimulai dari proyek besar. Bangsa dibangun oleh jutaan kontribusi kecil yang dilakukan secara konsisten.

Kota Membutuhkan “Tim Nasional” dalam Kehidupan Nyata

Indonesia sebenarnya memiliki banyak potensi. Yang sering kurang bukan manusianya, melainkan kemampuan untuk menghubungkan potensi-potensi tersebut dalam sebuah tujuan bersama.

Kita membutuhkan semacam “Tim Nasional” dalam kehidupan nyata.

Tim itu bukan organisasi politik. Bukan pula kelompok yang mendukung tokoh tertentu. Ia adalah kesadaran bahwa ada kepentingan yang lebih besar daripada kepentingan kelompok: kepentingan Indonesia.

Dalam “Tim Nasional” itu, pemerintah memiliki peran. Dunia usaha memiliki peran. Kampus memiliki peran. TNI dan Polri memiliki peran. Media memiliki peran. Organisasi masyarakat memiliki peran. Generasi muda memiliki peran. Dan rakyat biasa pun memiliki peran.

Kita tidak harus memiliki posisi yang sama, kita hanya perlu memiliki tujuan yang sama. Jika ada yang ingin memperkuat pertanian, mari bekerja bersama. Jika ada yang ingin memperbaiki pendidikan, mari bekerja bersama. Jika ada yang ingin memberantas korupsi, mari bekerja bersama. Jika ada yang ingin membangun industri nasional, mari bekerja bersama.

Jika ada yang ingin memperkuat desa, mari bekerja bersama. Jika ada yang ingin memperbaiki kualitas pelayanan publik, mari bekerja bersama.

Perdebatan mengenai cara boleh terjadi. Kritik tetap diperlukan. Perbedaan gagasan tetap harus dihormati. Tetapi setelah perdebatan selesai, kita kembali kepada satu pertanyaan: apa yang dapat kita kerjakan bersama? Jangan Biarkan Media Sosial Menentukan Masa Depan Bangsa.

Ada persoalan lain yang perlu kita sadari. Media sosial memberi kita ruang yang luar biasa besar untuk berbicara, tetapi tidak selalu memberi kita kemampuan untuk mendengar. Satu unggahan dapat memancing ribuan komentar. Satu potongan video dapat menciptakan kemarahan. Satu pernyataan dapat membuat orang saling menyerang selama berhari-hari.

Sementara itu, persoalan nyata di luar layar tetap berjalan. Harga hasil pertanian tetap menjadi persoalan petani. Anak-anak tetap membutuhkan pendidikan yang baik. Pengangguran tetap membutuhkan pekerjaan. Pelaku usaha kecil tetap membutuhkan akses modal dan pasar.

Kita harus berhati-hati agar jangan sampai perdebatan virtual menjadi begitu besar sehingga menutupi persoalan nyata.

Tidak ada yang salah dengan media sosial. Yang salah adalah ketika seluruh energi kita habiskan di sana, sementara kehidupan nyata membutuhkan tindakan. Bangsa tidak dibangun melalui jumlah komentar yang paling banyak. Bangsa dibangun melalui pekerjaan yang benar-benar menghasilkan perubahan.

Saatnya Mengubah Energi Menjadi Solusi

Indonesia tidak membutuhkan masyarakat yang selalu sepakat, Indonesia membutuhkan masyarakat yang mampu berbeda tanpa bermusuhan.

Kita membutuhkan politik yang menghasilkan gagasan, bukan sekadar permusuhan. Kita membutuhkan kritik yang menghasilkan perbaikan, bukan sekadar penghukuman. Kita membutuhkan perbedaan yang memperkaya demokrasi, bukan perbedaan yang menghancurkan persaudaraan.

Dan yang paling penting, kita membutuhkan budaya baru: dari budaya saling menyerang menuju budaya saling berkontribusi.

Mungkin kita bisa memulainya dari sesuatu yang sangat sederhana. Setiap kali ingin menulis komentar penuh kemarahan di media sosial, tanyakan kepada diri sendiri: “Apakah ini membuat Indonesia lebih baik?” Jika jawabannya tidak, mungkin lebih baik energi itu kita gunakan untuk sesuatu yang lebih berguna.

Karena Indonesia bukan hanya tentang siapa presidennya, siapa partainya, siapa tokoh yang kita dukung, atau siapa yang kita kritik.

Indonesia adalah tentang jutaan manusia yang ingin hidup lebih baik. Dan ketika Tim Nasional bermain, kita sudah membuktikan bahwa bangsa ini sebenarnya masih mampu bersatu.

Tugas kita sekarang adalah membawa semangat itu keluar dari stadion. Sebab Indonesia tidak boleh hanya menjadi Tim Nasional ketika bermain sepak bola. Indonesia harus menjadi Tim Nasional dalam membangun masa depannya.**

 

Penulis Tinggal di Kota Bekasi 

BEKASI TOP