Posbekasi.com

Bagimu Negeri Jiwa Raga Kami: Implementasi Akselerasi Transformasi Polri

Ilustrasi – Foto: AI

POSBEKASI.COM | Oleh: Komjen Pol Prof. Chryshnanda Dwilaksana.

Mampu bangkit berdiri dan melangkah menunjukkan sehat waras tidak stroke, tidak malas, aktif proaktif dan sadar. Kesadaran dalam berbangsa dan bernegara memerlukan kesadaran, tanggung jawab dan disiplin. Bangsa yang merdeka bercita-cita menyejahterakan rakyatnya, memajukan bangsanya, berdaya tahan, berdaulat, dan diselenggarakan dalam keadilan sosial.

Para bapak bangsa telah merintis menunjukkan kesadarannya, kegigihan, dan keberaniannya mendirikan bangsa ini.

Mereka mampu mengatasi perbedaan, menyatukan kepentingan, bahkan rela berkorban. Lawan dan usir penjajah. Merdekakan bangsa ini dari penjajah. Pekik merdeka terus berkumandang hingga mampu diproklamasikannya kemerdekaan Indonesia oleh Sukarno-Hatta yang menjadi wakil atau atas nama bangsa Indonesia.

Para bapak bangsa sadar benar apa dan siapa yang ada di dalamnya. Amanat konstitusi yang salah satunya adalah untuk mencerdaskan kehidupan bangsa.

Makna di balik kalimat itu tentu sangat dalam dan mendasar sebagai pilar dan ruh agar bangsa ini tetap ada.

Musuh bangsa ini pasca-penjajahan adalah kebodohan dan keserakahan dari sesama anak bangsa. Bagai tubuhnya sendiri yang dilawan jantung, paru-paru, maupun hatinya sendiri. Sehebat apa pun, dia akan hancur bahkan mati.

Peran dan Jiwa Polri

Polri di dalam pemolisiannya membangkitkan daya tahan, daya tangkal, bahkan daya saing secara nasional dalam konteks keamanan dalam negeri, yang mengacu pada Tri Brata dan Catur Prasetya.

Polri dalam pemolisiannya menunjukkan hati dan jiwanya sebagai patriot untuk terus menginspirasi dan menggelorakan ke seluruh lini kehidupan para anak bangsa.

Jiwa kepahlawanan ini yang menjadi bagian kekuatan Polri untuk tegar, teguh, tahan banting, dan gigih dalam menjaga bangsa ini untuk tetap ada dan lestari sepanjang sejarah.

Konflik dan potensi konflik terus-menerus menggerus dan berupaya menghancurkan dari dalam maupun luar.

Dengan kekuatan jiwanya, Polri sadar bahwa pemolisiannya harus terus berbenah, bangkit berdiri, dan melangkah bagi keutamaannya yaitu: kemanusiaan, keteraturan sosial, dan peradaban yang profesional, cerdas, bermoral, dan modern.

Tantangan Era Post-Truth

Di era post-truth, kesadaran maupun kewarasan sangat diperlukan agar jangan lemah dan terus dibodoh-bodohi, diadu domba, dan diberdayakan karena ketololan, ego, serta keserakahannya.

Hidupnya suatu bangsa yang bangkit adalah bangsa yang berdaulat, berdaya tahan, berdaya saing yang mampu memberdayakan semua elemen dan potensi anak bangsa yang dimilikinya.

“Rukun agawe santosa, Bhineka tunggal ika”. Mampu menerima, memahami, menghayati, serta membanggakan perbedaan sebagai kekayaan dan kebanggaan.

Kedigdayaan bangsa yang bangkit ditunjukkan dengan rukun dan mampu menyelesaikan konflik secara beradab. Politik waras dengan adil bijaksana dan mensejahterakan.

Ketulusan, kesadaran, dan tanggung jawab Polri secara sosial maupun pribadi merupakan wujud karakter anak bangsa yang bangkit, sehat, dan waras untuk profesional, cerdas, bermoral, dan modern untuk menjadikan bangsanya terhormat, bermartabat, berdaulat, dan rakyatnya cerdas, bekerja keras, makmur, serta sejahtera.

Akselerasi Transformasi Polri

Dengan passion “Bagimu Negeri Jiwa Raga Kami”, akselerasi transformasi Polri dalam pemolisiannya sebagai anak bangsa setidaknya:

1. Memiliki karakter transformasional, yang dibangun berbasis moralitas dengan kesadaran, tanggung jawab, dan disiplin dalam kejujuran, kebenaran, dan keadilan.

2. Memiliki wawasan kebangsaan dan jiwa patriotisme.

3. Memiliki pemahaman dan mampu mengimplementasikan keutamaan hidup berbangsa dan bernegara.

4. Memiliki wawasan dan pengetahuan serta kemampuan menghadapi era global, era digital, maupun era kenormalan baru.

5. Memiliki pengetahuan dan kemampuan manajerial maupun operasional dalam menghadapi situasi krisis/fakta brutal/situasi emerjensi maupun kontijensi.

6. Memiliki keberanian untuk belajar dan memperbaiki kesalahan di masa lalu.

7. Memiliki kesiapan menghadapi ancaman, tantangan, tuntutan, harapan, dan kebutuhan di masa kini.

8. Memiliki kemampuan untuk menyiapkan masa depan yang lebih baik.

9. Mampu menjadi ikon petugas yang profesional, cerdas, bermoral, dan modern.

10. Mampu membangun kepercayaan publik dalam mendukung keamanan dalam negeri dan pembangunan nasional.

Pemolisian di Era Digital dan Demokratis

Di era digital maupun era new normal, pemolisian dalam negara yang demokratis harus profesional, cerdas, bermoral, dan modern berbasis:

1. Supremasi hukum.

2. Jaminan dan perlindungan HAM.

3. Transparansi.

4. Akuntabilitas.

5. Orientasi kepada peningkatan kualitas hidup masyarakat.

6. Pembatasan dan pengawasan kewenangan polisi.

Implementasi Kemandirian Polri

Agar Polri mandiri sejalan dengan cita-cita Reformasi, setidaknya diperlukan:

Kebijakan Politik: Political will yang menempatkan Polri di bawah Presiden.

Model Pemolisian: Polri sebagai polisi nasional yang mengimplementasikan Democratic Policing.

Birokrasi Rasional: Birokrasi yang berbasis kompetensi dengan pendekatan impersonal. Budaya organisasi merefleksikan keutamaan bagi: Kemanusiaan, Keteraturan Sosial, dan Peradaban.

Perilaku Organisasi: Menunjukkan karakter Profesional, Cerdas, Bermoral, dan Modern.

Kepemimpinan Transformatif: Berani belajar dari masa lalu, siap di masa kini, dan mampu menyiapkan masa depan yang lebih baik.

Sistem Administrasi: Menjabarkan model Smart Policing untuk era digital dan kenormalan baru.

Sistem Operasional: Bersifat rutin, khusus, maupun kontijensi dengan pelayanan publik (Keamanan, Keselamatan, Hukum, Administrasi, Informasi, Kemanusiaan) yang berkualitas Prima (Cepat, Tepat, Akurat, Transparan, Akuntabel, Informatif, dan Mudah Diakses). Berbasis pada SOP yang jelas terkait job description, standar keberhasilan, reward and punishment, serta etika kerja.

Pembangunan SDM: Membangun SDM sebagai aset utama melalui siklus administrasi (rekrutmen hingga purna tugas) yang berbasis moral dan literasi.

Pengelolaan Logistik dan Anggaran: Berbasis kinerja dan kompetensi yang dapat dipertanggungjawabkan secara moral, hukum, administrasi, fungsional, maupun sosial.

Ikon Perubahan: Menunjukkan peran sebagai Penjaga Kehidupan, Pembangun Peradaban, dan Pejuang Kemanusiaan yang menjadi ikon Keindonesiaan, Kebhayangkaraan, Anti-Korupsi, dan Anti-Narkoba.

Polri merefleksikan demokrasi dalam pemolisiannya melalui “Supremasi Sipil dan Supremasi Hukum”. Dalam konsep demokrasi “Hukum Menjadi Panglimanya”, hal ini berarti kekuasaan sipil (pemerintah dan parlemen) memiliki kontrol atas kewenangan, dan bukan sebaliknya.***

BEKASI TOP