Nur Supriyanto Blak-Blakan Terkait Tuduhan Habib Rizieq Pemecah Belah dan Pembohong Publik

Pasca pencopotan oleh Satpol PP, loyalis Nur-Firdaus kembali memasang banner Habib Rizieq dan Nur Supriyanto yang dituduh memecah belah dan pembohongan publik.[facebook]

posBEKASI.com, BEKASI – Tuduhan terhadap Imam Besar Front Pembelas Islam (FPI) Habib Rizieq Shihab sebagai pemecah belah dan pembohongan publik dan dituding berbau SARA sangat disayangkan.

Hal itu hanya dikarenakan banner Pendiri FPI tersebut bersama calon Walikota Bekasi Nur Supriyanto yang bersalaman dan bertuliskan ucapan Habib Rizieq, “Saya Titipkan Warga Muslim Bekasi kepada Nur Supriyanto”.

Anehnya, ucapan seorang Ulama besar tersebut tidak saja menuai kritik tapi juga menuding Habib Rizieq sebagai pemecah belah dan pembohongan publik langsung mendapat reaksi cukup keras dari Persaudaraan Alumni 212 (PA 212) yang akan melakukan langkah hukum terhadap tuduhan-tuduhan tersebut.

Berulang kali, Nur Supriyanto menjelaskan bahwa pertemuannya dengan Habib Rizieq di Arab Saudi saat ia melaksanakan umroh pada tanggal 5 – 6 Maret 2018, dirinya meminta doa dan dukungan sebagai calon Walikota Bekasi yang maju bersama calon Wakil Walikota Adhy FIrdaus periode 2018-2023.

“Usai melaksanakan umroh, saya bertemu langsung dengan beliau (Habib Rizieq) dan beliau menitipkan suara umat Islam di Kota Bekasi kepada kami (Nur Supriyanto-Adhy Firdaus),” terang Nur Supriyanto, Selasa 27 Maret 2018.

Pertemuan tersebut, Habib Rizieq juga berpesan kepada dirinya untuk membawa Islam sebagai agama Rahmatan Lil Alamin yang mengajarkan kebaikan kepada seluruh umat.

“Habib Rizieq mengamanatkan kepada saya untuk mengikhlaskan niat mencari Ridho Allah dan menjaga Islam dan umat Islam di Kota Bekasi serta menunjukan Islam yang Rahmatan Lil Alamin sehingga semua terayomi dan terlindungi,” ucapnya.

Pesan Habib Rizieq yang direkam dalam bentuk video kemudian viral di Youtube dan berbagai media sosial berjudul “Gak Nyangka, ini Pesan Habib Rizieq Ke Nur Supriyanto dan Warga Kota Bekasi”.

Nur Supriyanto pun gak nyangka pendukungnya begitu antusias melihat pertemuannya dengan Habib Rizieq kemudian menyebarluaskannya dalam bentuk alat peraga kampanye berupa spanduk berukuran 4×6 meter persegi yang terpasang diberbagai tempat hingga menuduh Habib Rizieq memecah belah dan melakukan pembohongan publik.

Sayangnya, tuduhan yang tidak mendasar itu datang dari elite organisasi Kepemudaan, yakni Plt Ketua DPD KNPI (Komite Nasional Pemuda Indonesia) Kota Bekasi, Arihta Tarigan (Castro).

Selanjutnya, Castro melaporkan paslon Nur-Firdaus ke Panwaslu atas dugaan tindakan politisasi SARA. Dalam laporannya, Castro menyerahkan barang bukti berupa banner Habib Rizieq yang merupakan Imam Besar Front Pembela Islam (FPI) bersama Nur Supriyanto kepada Panwaslu, pada Jumat 23 Maret 2018.

Bannaer Habib Rizieq bersama Nur Supriyanto yang dipasang lolayalis Nur-Firdaus di kawasan Jakamulya tanpa mengganggu banner paslon Pepen-Tri yang terlihat terpasang dengan ukuran hampir sama besarnya.[facebook]

“Kami telah menemukan banyak banner-banner paslon nomor 2 di sepanjang jalan Kelurahan Bekasi Jaya Kecamatan Bekasi Timur, yang tidak sesuai dengan design KPU dan isi seruannya itu memecah belah masyarakat, dan juga pembohongan publik dimana dalam banner tersebut tercantum foto Nur Supriyanto dan Habib Rizieq dengan disertai nomor urut 2,” terangnya ketika itu.

Padahal, bagian bawah foto Habib Rizieq-Nur Supriyanto itu hanya tertera tulisan dari ucapan dukungan Habib Rizieq, “Saya Titipkan Warga Muslim Bekasi kepada Nur Supriyanto”, akibat laporan Castro ke Panwaslu itu menimbulkan pro kontra dan dapat mengganggu kedamaian Pilkada Kota Bekasi.

Padahal kata Nur Supriyanto, banner itu disalah artikan hingga menjadi tuduhan yang tidak berasalan. “Inilah yang kit sayngkan, padahal ini merupakan upaya dukungan yang dilakukan oleh loyalis Habib Rizieq, kebetulan banyak yang lihat, jadi pas lihat video dan gambar-gambarnya banyak simpatisan yang berkeinginan menyebarluaskannya. Sebenarnya ini situasi yang alami saja tidak perlu ditanggapi berlebihan,” kata Nur Supriyanto.

Meski demikian, mantan dosen di kampus Unisma’45 itu tidak khawatir dengan penilaian masyarakat yang kontra terhadap sosok Habib Rizieq di tengah kasus hukum yang kini menjeratnya.

“Saya melihat Habib Rizieq adalah pimpinan FPI. 100 persen anggota FPI merupakan alumni 212. Kota Bekasi merupakan kota religius yang berangkat dari sejarah perjuangan Islam KH Noer Alie dalam merebut kemerdekaan. Saya rasa tidak masalah, saya punya prinsip religius itu bukan milik satu agama,” ucap Nur Supriyanto menepis kekhawatiran tersebut.

Seharusnya kata Nur Supriyanto, kemunculan gambar Habib Rizieq dipandang secara netral saja sebagai bentuk dukungan bukan lalu menuding-nuding apalagi sampai dituduh memecah belah dan pembohongan publik.

“Siap yang dipecah belah? Siapa yang dibohongi?, kenapa Habib Rizieq jadi dituduh sepertiitu? Padahal calon lain juga memajang gambar Susilo Bambang Yudhoyono di belakangnya, ada juga yang memasang Agus Yudhoyono dan lainnya tapi pendukung dan simpatisan kami tidak menuduhkan seperti yang dituduhkan pada Habib Rizieq,” jelasnya.

Melihat fenomena ini lanjut Nur Supriyanto, membuat dirinya semakin kuat dan oprimis memperoleh dukungan suara dari para Alumni 212 seperti terjadi di Pilkada DKI Jakarta.

“Tuduhan yang tak profesional itu justru membuat saya semakin kuat dan optimis khususnya suara umat Islam semakin besar mendungkung Nur-Firdaus. Meski demkian kami tetap ikhtiar dan terus berupaya karena Allah SWT lah yang menentukan apakah Nur-Firdaus menjadi pemimpin untuk menjadikan Kota Bekasi lebih maju, modern, dan religius,” ucapnya.[POB1]

Pin It

Leave a Reply

Your email address will not be published.