Posbekasi

PKBM 30:70: Pendidikan untuk Hidup, Keterampilan untuk Mandiri

Infografis gagasan PKBM 30:70 pendidikan untuk hidup dan keterampilan untuk mandiri oleh Drs. Muhamnad Bardansyah.

BEKASI KOTA, POSBEKASU.com – Ada satu pertanyaan yang layak kita ajukan kembali kepada sistem pendidikan kita: Apakah semua anak harus dididik dengan cara yang sama, sementara mereka tumbuh dalam lingkungan, potensi, dan kebutuhan kehidupan yang berbeda?

Pertanyaan ini menjadi semakin penting ketika kita berbicara tentang anak-anak dari keluarga kurang mampu.

Bagi sebagian anak, pendidikan formal dengan orientasi akademik dapat menjadi jalan menuju perguruan tinggi dan profesi tertentu. Tetapi bagi sebagian anak lainnya, terutama mereka yang hidup dalam keluarga dengan keterbatasan ekonomi, pendidikan perlu memberikan sesuatu yang lebih konkret: pengetahuan untuk memahami kehidupan dan keterampilan untuk membangun kehidupan.

Di sinilah gagasan tentang Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) dapat dikembangkan lebih jauh.

PKBM jangan hanya dipandang sebagai tempat memperoleh pendidikan kesetaraan bagi mereka yang tidak mengikuti jalur sekolah formal. PKBM dapat dirancang menjadi sebuah model pendidikan alternatif yang menghubungkan pengetahuan, keterampilan, karakter, agama, dan potensi ekonomi daerah.

Bukan Sekedar Mengejar Ijazah

Selama ini pendidikan sering kali terlalu mudah diukur melalui ijazah, nilai, dan kelulusan. Padahal, bagi keluarga yang hidup dalam keterbatasan ekonomi, pertanyaan yang lebih mendasar adalah: Setelah menyelesaikan pendidikan, apa yang dapat dilakukan seorang anak untuk membangun masa depannya?

Ijazah penting. Pendidikan dasar juga mutlak penting. Kemampuan membaca, menulis, berhitung, memahami ilmu pengetahuan, menggunakan teknologi dan berkomunikasi merupakan fondasi yang tidak boleh ditinggalkan.

Namun fondasi saja belum cukup. Seorang anak yang tinggal di daerah pertanian perlu memahami bagaimana pertanian modern bekerja. Anak yang hidup di wilayah pesisir perlu mengenal perikanan dan ekonomi kelautan. Anak di daerah perkebunan perlu memahami budidaya, produktivitas, pengolahan hasil dan pemasaran. Anak di wilayah peternakan perlu menguasai dasar pemeliharaan, pakan, kesehatan ternak hingga pengelolaan usaha.

Dengan demikian, pendidikan tidak tercerabut dari lingkungan kehidupan peserta didik.

Gagasan PKBM 30:70

Dari pemikiran tersebut, kita dapat menawarkan sebuah model yang kita sebut PKBM 30:70.

Angka tersebut bukan formula yang harus diterapkan secara kaku, melainkan sebuah gagasan desain pembelajaran.

Sekitar 30 persen proses pembelajaran diarahkan pada pengetahuan dasar, sedangkan sekitar 70 persen diarahkan pada keterampilan produktif yang sesuai dengan potensi daerah, minat peserta didik dan peluang ekonomi setempat.

Pengetahuan dasar meliputi Bahasa Indonesia, matematika, ilmu pengetahuan dasar, literasi digital, pengetahuan sosial, kewarganegaraan, serta literasi keuangan dan agama

Sementara itu, 70 persen pembelajaran diarahkan pada keterampilan yang benar-benar dapat dipraktikkan.

Anak-anak tidak hanya duduk di ruang kelas. Mereka belajar dengan tangan, dengan lingkungan, dengan alam, dengan peralatan kerja, dan dengan persoalan nyata.

Pendidikan Mengikuti Potensi Daerah 

Model PKBM semacam ini harus memiliki satu prinsip penting: Tidak ada satu kurikulum keterampilan yang harus dipaksakan kepada semua daerah.

PKBM di daerah pertanian tentu berbeda dengan PKBM di daerah pesisir.

Di wilayah pertanian, peserta didik dapat mempelajari pembibitan, pengolahan tanah, budidaya tanaman, pupuk organik, pengendalian hama, teknologi pertanian, pascapanen dan pemasaran.

Di wilayah peternakan, mereka dapat mempelajari pemeliharaan ternak, pakan, kesehatan hewan, pembibitan, pengolahan hasil ternak dan manajemen usaha.

Di wilayah perikanan, keterampilan dapat diarahkan pada budidaya ikan, pembenihan, pengelolaan pakan, kualitas air, pengolahan hasil perikanan hingga pemasaran.

Sementara di daerah perkebunan, pendidikan dapat diarahkan pada pembibitan, budidaya, pemeliharaan tanaman, panen, pascapanen, pengolahan dan hilirisasi komoditas.

Dengan cara ini, potensi ekonomi daerah menjadi laboratorium pendidikan. Anak tidak harus selalu belajar tentang sesuatu yang jauh dari kehidupan mereka.

Mereka dapat belajar dari tanah yang mereka pijak, sungai yang mengalir di daerahnya, laut yang berada di depan rumahnya, kebun keluarganya atau peternakan di lingkungan sekitarnya.

Dari Bisa Bekerja Menjadi Mampu Membangun Usaha

Tetapi ada satu jebakan yang harus kita hindari. Pendidikan keterampilan jangan hanya menghasilkan anak yang “bisa bekerja”

Kita harus berusaha menghasilkan anak yang memahami bagaimana sebuah pekerjaan dapat berkembang menjadi usaha.

Anak yang belajar pertanian, misalnya, tidak cukup hanya mengetahui cara menanam, ia perlu belajar menghitung biaya produksi, menghitung keuntungan, menjaga kualitas, mengolah hasil, membuat kemasan, menggunakan teknologi digital dan memasarkan produknya.

Anak yang belajar peternakan juga perlu memahami bagaimana menghitung kebutuhan pakan, biaya pemeliharaan, risiko usaha, harga jual dan pengelolaan keuntungan.

Dengan demikian, alur pendidikannya menjad: 𝐁𝐞𝐥𝐚𝐣𝐚𝐫 → 𝐏𝐫𝐚𝐤𝐭𝐢𝐤 → 𝐌𝐞𝐧𝐠𝐡𝐚𝐬𝐢𝐥𝐤𝐚𝐧 → 𝐌𝐞𝐧𝐠𝐡𝐢𝐭𝐮𝐧𝐠 → 𝐌𝐞𝐧𝐠𝐨𝐥𝐚𝐡 → 𝐌𝐞𝐦𝐚𝐬𝐚𝐫𝐤𝐚𝐧 → 𝐌𝐞𝐧𝐠𝐞𝐦𝐛𝐚𝐧𝐠𝐤𝐚𝐧 𝐔𝐬𝐚𝐡𝐚.

Inilah yang membedakan pendidikan keterampilan dengan sekadar pelatihan.

Agama dan Karakter sebagai Fondasi

Namun manusia tidak cukup hanya memiliki pengetahuan dan keterampilan, ia juga membutuhkan nilai. Karena itu, pendidikan agama dan karakter harus menjadi bagian penting dari model PKBM ini.

Peserta didik mendapatkan pendidikan agama sesuai dengan agama masing-masing, sekaligus dibentuk dengan nilai kejujuran, tanggung jawab, disiplin, kepedulian, kerja keras, gotong royong dan penghormatan terhadap sesama.

Pendidikan agama tidak harus berdiri sebagai sesuatu yang terpisah dari keterampilan. Ketika seorang anak belajar berdagang, ia belajar kejujuran. Ketika belajar bertani, ia belajar menghargai alam. Ketika belajar beternak, ia belajar bertanggung jawab terhadap makhluk hidup.

Ketika bekerja dalam kelompok, ia belajar disiplin, kerja sama dan saling menghormati. Dengan demikian, tujuan pendidikan bukan hanya melahirkan manusia yang terampil mencari nafkah, tetapi manusia yang mampu mencari nafkah dengan ilmu, keterampilan, integritas dan nilai agama.

Sekolah yang Berusaha Memutus Rantai Kemiskinan

Pada akhirnya, persoalan ini bukan semata-mata tentang model sekolah. Ini adalah persoalan tentang mobilitas sosial.

Anak dari keluarga kurang mampu tidak boleh hanya dipersiapkan untuk menerima keadaan orang tuanya. Ia harus memperoleh kesempatan untuk memiliki pengetahuan dan keterampilan yang memungkinkan dirinya meningkatkan kehidupan.

Bayangkan seorang anak dari keluarga petani. Jika pendidikan hanya memberikan pengetahuan akademik tanpa menghubungkannya dengan potensi ekonomi di sekitarnya, setelah lulus ia mungkin tetap tidak mengetahui bagaimana meningkatkan produktivitas lahan keluarganya.

Tetapi jika ia mendapatkan pendidikan pertanian modern, kewirausahaan, teknologi digital, pengolahan hasil dan literasi keuangan, ia dapat kembali kepada keluarganya dengan membawa pengetahuan baru. Ia bukan lagi sekadar membantu orang tuanya bertan, ia dapat membawa cara baru untuk bertani.

Ia dapat mengolah hasil, membangun merek, menjangkau pasar yang lebih luas. Bahkan, suatu hari, ia dapat menciptakan pekerjaan bagi orang lain.

Di titik inilah pendidikan dapat menjadi instrumen untuk memutus rantai kemiskinan antargenerasi.

PKBM sebagai Laboratorium Ekonomi Lokal

Karena itu, kita dapat membayangkan PKBM masa depan bukan sebagai gedung yang hanya memiliki ruang kelas. PKBM dapat memiliki kebun praktik, kandang ternak, kolam budidaya, bengkel sederhana, dapur pengolahan, ruang digital dan unit usaha peserta didik sesuai karakter ekonomi wilayahnya.

Anak belajar, bekerja secara terarah, menghasilkan. Hasilnya dapat dipasarkan. Keuntungan dapat digunakan kembali untuk mendukung proses pembelajaran.

Dengan demikian, PKBM perlahan dapat membangun sebuah ekosistem belajar-produktif. Tentu saja, model seperti ini membutuhkan pengawasan, standar keselamatan, pendampingan guru/instruktur yang kompeten, dan hubungan dengan dunia usaha. Anak-anak tidak boleh dieksploitasi sebagai tenaga kerja murah. Aktivitas produktif harus tetap merupakan bagian dari proses pendidikan yang terencana dan sesuai usia.

Pendidikan yang Berangkat dari Kehidupan 

Kita sering mengatakan bahwa pendidikan adalah investasi masa depan, tetapi investasi itu harus relevan dengan kehidupan nyata.

Tidak semua anak akan menjadi dokter, insinyur, akademisi, birokrat atau profesional kantoran. Dan tidak ada yang salah dengan itu.

Sebagian anak mungkin akan menjadi petani modern, sebagian menjadi peternak profesional. Sebagian menjadi pembudidaya ikan, sebagian menjadi pengusaha hasil perkebunan, menjadi teknisi. Sebagian lagi membangun usaha kecil yang kemudian berkembang menjadi usaha menengah.

Yang terpenting adalah mereka memperoleh martabat untuk menentukan masa depannya sendiri.

Karena itu, mungkin sudah waktunya kita memperluas cara pandang kita terhadap pendidikan. Pendidikan tidak hanya bertujuan membuat anak mengetahui lebih banyak, tetapi pendidikan juga harus membuat anak mampu melakukan lebih banyak, menghasilkan lebih banyak, dan memiliki lebih banyak pilihan dalam hidupnya.

Dan bagi anak-anak yang lahir dari keluarga kurang mampu, semakin banyak pilihan berarti semakin besar pula kesempatan untuk mengubah masa depan keluarganya.

PKBM 30:70 mungkin bukan jawaban untuk semua anak. Tetapi ia layak menjadi salah satu eksperimen pendidikan yang serius: pendidikan yang menggabungkan pengetahuan dasar, keterampilan produktif, agama, karakter, dan potensi ekonomi daerah untuk satu tujuan, membuka jalan menuju kemandirian.

 

 

Oleh:Drs.Muhamnad Bardansyah.Ch.Cht

BEKASI TOP