POSBEKASI.COM | Oleh : Drs. Muhammad Bardansyah. Ch.Cht.
“Dari permainan di meja ke upaya membangun masyarakat yang aktif, sehat, dan tetap tajam berpikir hingga usia lanjut.”
Ada pemandangan sederhana yang sering kita jumpai di tengah masyarakat: beberapa orang duduk mengelilingi meja, menyusun keping-keping domino, memperhatikan langkah lawan, menghitung kemungkinan, dan sesekali tersenyum ketika berhasil membaca situasi permainan. Bagi sebagian orang, itu hanyalah hiburan. Namun, di balik permainan tersebut, terdapat aktivitas mental yang layak mendapat perhatian.
Domino bukan semata-mata permainan keberuntungan. Dalam permainan yang mengandalkan strategi, pemain harus mengamati, mengingat, menghitung, mengenali pola, menyusun rencana, dan mengambil keputusan. Mereka juga perlu memperhatikan langkah pemain lain serta menyesuaikan strategi ketika situasi berubah.
Pertanyaannya, mungkinkah permainan sederhana ini menjadi salah satu cara untuk menjaga otak tetap aktif dan membantu mengurangi risiko penurunan fungsi kognitif seiring bertambahnya usia?
Jawabannya menjanjikan, tetapi harus disampaikan secara proporsional. Domino berpotensi menjadi sarana stimulasi kognitif dan interaksi sosial. Namun, kita belum memiliki bukti ilmiah yang cukup untuk menyatakan bahwa bermain domino secara khusus dapat mencegah demensia.
Otak Membutuhkan Tantangan
Otak tidak hanya bekerja ketika seseorang membaca buku, memecahkan persoalan matematika, atau mempelajari teknologi baru. Aktivitas sehari-hari yang menuntut perhatian, ingatan, penalaran, dan pengambilan keputusan juga melibatkan berbagai fungsi kognitif.
Dalam permainan domino, misalnya, pemain perlu mengingat keping yang telah dimainkan, mengenali angka atau pola yang tersedia, memperkirakan kemungkinan langkah berikutnya, dan menentukan strategi berdasarkan informasi yang terus berubah.
Aktivitas tersebut melibatkan beberapa kemampuan penting, seperti memori kerja, konsentrasi, penalaran, dan fungsi eksekutif, yaitu kemampuan mental untuk merencanakan, mengendalikan respons, serta menyesuaikan tindakan terhadap situasi.
Sebuah penelitian yang diterbitkan dalam Jurnal Keperawatan pada 2019 meneliti aktivitas bermain domino untuk meningkatkan kemampuan berhitung pada kelompok lanjut usia. Penelitian dengan 40 responden tersebut melaporkan hasil yang mendukung penggunaan permainan domino sebagai aktivitas untuk melatih kemampuan berhitung lansia.
Temuan itu memberikan alasan untuk melihat domino sebagai salah satu bentuk kegiatan stimulasi mental. Meski demikian, hasil penelitian mengenai kemampuan berhitung tidak serta-merta membuktikan bahwa permainan tersebut dapat mencegah demensia atau memperlambat semua bentuk penurunan fungsi otak.
Dengan kata lain, domino dapat menjadi bagian dari kebiasaan yang membuat otak terus bekerja, tetapi bukan obat untuk kepikunan.
Kepikunan Bukan Sekadar Lupa
Seiring bertambahnya usia, seseorang mungkin sesekali lupa meletakkan barang, membutuhkan waktu lebih lama untuk mengingat nama, atau mengalami perubahan kecepatan berpikir. Tidak setiap kelupaan merupakan tanda demensia.
Demensia merupakan kondisi yang memengaruhi daya ingat, kemampuan berpikir, dan kemampuan seseorang menjalankan aktivitas sehari-hari. Kondisi ini memiliki berbagai penyebab dan tidak dapat dicegah hanya melalui satu jenis kegiatan.
Karena itu, upaya menjaga kesehatan otak harus dipandang secara menyeluruh. Organisasi Kesehatan Dunia atau World Health Organization (WHO), dalam pedoman pengurangan risiko penurunan kognitif dan demensia edisi kedua pada 2026, memasukkan stimulasi kognitif dan aktivitas sosial sebagai bagian dari pendekatan yang dapat dipertimbangkan untuk menjaga fungsi kognitif.
Pedoman tersebut juga menekankan pentingnya aktivitas fisik, pola makan sehat, pengendalian tekanan darah, diabetes dan faktor risiko lainnya, serta penanganan gangguan pendengaran dan berbagai kondisi kesehatan yang berkaitan dengan risiko demensia.
Artinya, menjaga otak bukan hanya soal mengisi waktu dengan permainan. Yang diperlukan adalah gaya hidup sehat yang menggabungkan aktivitas mental, fisik, sosial, dan pengelolaan kesehatan secara konsisten.
Domino Menghidupkan Pikiran dan Hubungan Sosial
Ada manfaat lain dari domino yang tidak kalah penting: permainan ini dapat mempertemukan orang-orang dalam interaksi langsung.
Di tengah kehidupan modern yang semakin banyak berlangsung melalui layar, pertemuan di meja permainan memberi kesempatan kepada orang untuk berbicara, bertukar pikiran, membaca ekspresi, berkompetisi secara sehat, dan membangun persahabatan.
Bagi orang lanjut usia, kesempatan untuk tetap terlibat dalam kegiatan bersama dapat membantu mengurangi keterasingan sosial dan memberi ruang untuk mempertahankan peran dalam komunitas.
Tentu, manfaat tersebut bergantung pada bagaimana permainan diselenggarakan. Suasana yang bersahabat, kompetisi yang sehat, dan kesempatan bagi semua peserta untuk berpartisipasi akan lebih bermanfaat daripada lingkungan yang penuh tekanan, konflik, atau perjudian.
Dengan pendekatan yang tepat, domino dapat menjadi sarana rekreasi sekaligus wadah untuk memperkuat hubungan antargenerasi. Anak muda, orang dewasa, dan lansia dapat duduk di meja yang sama, berbagi pengalaman, dan menikmati tantangan permainan.
Dari Permainan Rakyat Menjadi Olahraga Rekreatif
Domino layak dikembangkan sebagai olahraga rekreatif berbasis keterampilan mental. Dalam format kompetitif, permainan ini dapat menuntut disiplin, pengendalian emosi, ketelitian, sportivitas, dan kemampuan mengambil keputusan di bawah tekanan.
Namun, pengembangan domino tidak harus berhenti pada penyelenggaraan turnamen. Klub dan komunitas dapat merancang kegiatan rutin yang menggabungkan permainan, edukasi kesehatan, interaksi sosial, dan aktivitas fisik ringan.
Misalnya, komunitas domino dapat mengadakan pertemuan mingguan bagi warga lanjut usia, menyelenggarakan pertandingan persahabatan antargenerasi, atau bekerja sama dengan puskesmas dan komunitas kesehatan untuk memberikan edukasi mengenai penuaan sehat.
Kegiatan tersebut tidak perlu mahal. Meja, keping domino, tempat berkumpul yang nyaman, serta aturan permainan yang jelas sudah dapat menjadi titik awal. Yang lebih penting adalah konsistensi kegiatan, suasana inklusif, dan kesadaran bahwa kesehatan otak perlu dijaga melalui berbagai kebiasaan baik.
Di sinilah domino memiliki peluang sosial yang menarik: permainan yang akrab bagi masyarakat dapat menjadi pintu masuk untuk membangun kebiasaan hidup aktif, memperluas pergaulan, dan meningkatkan perhatian terhadap kesehatan lansia.
Jangan Hanya Mengandalkan Domino
Meskipun memiliki potensi, bermain domino tidak boleh dijadikan satu-satunya strategi untuk menjaga kesehatan otak. Tidak ada permainan yang dapat menjamin seseorang terbebas dari demensia.
Masyarakat tetap perlu membiasakan aktivitas fisik sesuai kemampuan, mengonsumsi makanan bergizi seimbang, tidur cukup, menjaga hubungan sosial, serta memeriksa dan mengendalikan kondisi kesehatan seperti hipertensi dan diabetes.
Jika seseorang mengalami gangguan ingatan yang semakin sering, memburuk, atau mulai mengganggu kegiatan sehari-hari, pemeriksaan oleh tenaga kesehatan perlu dilakukan. Jangan menganggap semua perubahan tersebut sekadar proses penuaan yang wajar.
Domino akan lebih bermakna jika menjadi bagian dari gaya hidup sehat, bukan pengganti perawatan medis atau kebiasaan sehat lainnya.
Menjaga Otak, Merawat Kebersamaan
Mungkin kita selama ini terlalu sering memandang domino hanya sebagai permainan untuk mengisi waktu senggang. Padahal, ketika dimainkan dengan strategi dan dalam suasana sosial yang positif, permainan ini dapat memberi tantangan mental sekaligus mempererat hubungan antarmanusia.
Kita memang belum dapat mengatakan bahwa domino terbukti mencegah kepikunan. Namun, kita memiliki alasan untuk mendorong aktivitas yang merangsang pikiran, membuka ruang interaksi sosial, dan membuat orang tetap terlibat dalam kehidupan komunitas.
Sudah saatnya permainan rakyat tidak hanya dinilai dari kesederhanaan bentuknya, tetapi juga dari peluangnya untuk mendukung kualitas hidup Masyarakat
Sebab, menjadi tua tidak berarti berhenti belajar, berhenti berpikir, atau berhenti bersosialisasi. Selama masih ada kesempatan untuk bergerak, berinteraksi, dan menghadapi tantangan baru, kita memiliki alasan untuk terus merawat kesehatan tubuh dan pikiran.
Dan mungkin, di sebuah meja domino yang sederhana, kebiasaan baik itu dapat dimulai.
Referensi
* Taplo, Y. M., Madianung, A., & Kanine, E. (2019). Aktivitas bermain domino sebagai media untuk meningkatkan kemampuan fungsi kognitif berhitung pada lansia. Jurnal Keperawatan, 7(1). https://doi.org/10.35790/jkp.v7i1.22884
* World Health Organization. (2026). Risk reduction of cognitive decline and dementia: WHO guidelines (2nd ed.). https://www.who.int/publications/i/item/9789240123557

