Posbekasi

Bongkar Lab Sabu Aceh, Kapolri Suyudi Putus Jalur Narkoba Internasional

Petugas gabungan melakukan olah TKP dan menyita barang bukti laboratorium gelap pembuatan sabu di Pidie Aceh
Kapolri Jenderal Polisi Suyudi Ario Seto pimpin konferensi pers pengungkapan 1,2 ton bruto narkotika laboratorium jaringan internasional terbesar di Indonesia, oleh Tim gabungan Kepolisian, Badan Narkotika Nasional (BNN), dan Bea Cukai, di Pidie, Aceh, Jumat (23/10/2026). Posbekasi.com / Div. Humas Polri

ACEH PIDIE, posbekasi.com – Tim gabungan Kepolisian, Badan Narkotika Nasional (BNN), dan Bea Cukai berhasil membongkar laboratorium gelap pembuatan sabu jaringan internasional di Kabupaten Pidie, Aceh.

Dalam penindakan serentak di lima lokasi pada 21 Oktober 2026 tersebut, petugas menyita hampir 1,2 ton bruto narkotika yang mencatatkan rekor pengungkapan laboratorium gelap terbesar di Indonesia.

“Saya ucapkan selamat atas pengungkapan dalam rangka menyelamatkan anak bangsa ini. Polisi dan masyarakat kita berhasil mengungkap jaringan narkoba skala besar,” kata Kapolri Jenderal Polisi Suyudi Ario Seto yang langsung terbang ke Pidie untuk menyaksikan langsung hasil penggerebekan narkotika, dan memimpin lansung konferensi pers, di Pidie, Aceh, Jumat (23/10/2026).

Advertisements

Operasi penggerebekan dilakukan di wilayah Kabupaten Pidie, Bireuen, Aceh Utara, dan Kota Lhokseumawe berdasarkan analisis intelijen serta pemantauan alur logistik. Petugas berhasil mengidentifikasi sebuah ruko di Kecamatan Mutiara Timur, Pidie, yang difungsikan sebagai lokasi pengolahan meth oil atau sabu cair menjadi sabu kristal, lengkap dengan 20 drum bahan baku, 500 kilogram sabu kristal, dan alat produksi.

“Saya berpesan kepada seluruh masyarakat, khususnya pemilik ruko, kontrakan, atau rumah sewa, agar senantiasa selektif dan memastikan identitas serta aktivitas penyewa dapat dipertanggungjawabkan. Jangan apatis dengan lingkungan sekitar,” tegas Kapolri Jenderal Polisi Suyudi Ario Seto.

Selain menyita 1,2 ton barang bukti, tim gabungan mengamankan 11 orang tersangka yang terdiri dari dua WNA dan sembilan WNI.

Hasil penyelidikan sementara mengindikasikan bahan narkotika cair tersebut dipasok dari kawasan Asia Tenggara sebelum masuk ke daratan Aceh untuk diolah secara intensif.

Penyidik gabungan masih mendalami peran masing-masing tersangka, mengejar pihak yang masuk DPO, menelusuri aliran dana hasil kejahatan, serta berkoordinasi dengan otoritas luar negeri.

Pengungkapan ini turut melibatkan kerja sama internasional dengan National Narcotics Control Commission (NNCC) Tiongkok.

Sinergi lintas negara dan antar-lembaga ini dinilai sangat strategis guna memutus rantai pasokan global serta mencegah wilayah Indonesia dijadikan basis produksi maupun jalur transit peredaran narkotika.

“Kerja sama lintas lembaga dan internasional menjadi kunci penting untuk memutus rantai pasokan narkotika dan mencegah Indonesia digunakan sebagai lokasi produksi maupun jalur distribusi jaringan internasional,” pungkas Kapolri.

 

Pewarta/Editor: Ismail Hasibuan/RED-02

BEKASI TOP