Baru Tahu Bupati Neneng Hamil 4 Bulan, Ini Reaksi KPK

Bupaati Bekasi Neneng Hasanah Yasin.[IST]

POSBEKASI.COM | JAKARTA – Tersangka suap prizinan mega proyek Meikarta Bupati Bekasi (non aktif) Neneng Hasanah Yasin yang kini menjalani tahanan tengah mengandung.

Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) baru mengetauhi bahwa Neneng tengah hamil diprakirakan memasuki empat bulan.

“Bupati memang tidak menyampaikan bahwa dia dalam kondisi hamil. Namun, setelah selang satu hari ketika ada kunjungan dokter menanyakan apakah benar dalam kondisi hamil dan dijawab ‘iya’. Jadi, sekitar tiga atau empat bulan,” kata Juru Bicara KPK Febri Diansyah di Jakarta, Kamis 18 Oktober 2018.

Lebih lanjut, Febri menyatakan, bahwa KPK akan memenuhi hak-hak tersangka untuk perawatan dan pengecekan kesehatan. “Nanti tentu hak-hak untuk perawatan kesehatan itu akan diberikan oleh KPK, misalnya untuk pengecekan perkembangan secara wajar sekali sebulan atau tergantung arahan dokter spesialis. Hak-hak tersebut akan di berikan,” ucap Febri.

KLIK : Neneng Ditahan KPK, Eka Resmi Jabat Plt Bupati Bekasi

Dalam kasus suap terkait perizinan Meikarta, selain Bupati Bekasi, KPK juga telah menetapkan delapan tersangka lainnya. Mereka yaitu, konsultan Lippo Group masing-masing Taryudi (T) dan Fitra Djaja Purnama (FDP), pegawai Lippo Group Henry Jasmen (HJ).

Selanjutnya, Kepala Dinas PUPR Kabupaten Bekasi Jamaludin (J), Kepala Dinas Pemadam Kebakaran Pemkab Bekasi Sahat MBJ Nahor (SMN), dan Kepala Dinas Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Kabupaten Bekasi Dewi Tisnawati (DT), Direktur Operasional Lippo Group Billy Sindoro (BS), dan Kepala Bidang Tata Ruang Dinas PUPR Kabupaten Bekasi Neneng Rahmi (NR).

Diduga Bupati Bekasi dan kawan-kawan menerima hadiah atau janji dari pengusaha terkait pengurusan perizinan proyek pembangunan Meikarta di Kabupaten Bekasi. Diduga, pemberian terkait dengan izin-izin yang sedang diurus oleh pemilik proyek seluas total 774 hektare yang dibagi ke dalam tiga fase/tahap, yaitu fase pertama 84,6 hektare, fase kedua 252,6 hektare, dan fase ketiga 101,5 hektare.

KLIK : Temukan Kode ‘Babe’, KPK Juga Dalami Kode ‘Tina Toon’ Kasus Suap Meikarta

“Pemberian dalam perkara ini, diduga sebagai bagian dari komitmen fee fase proyek pertama dan bukan pemberian yang pertama dari total komitmen Rp 13 miliar, melalui sejumlah dinas. Yaitu, Dinas PUPR, Dinas Lingkungan Hidup, Damkar, dan DPM-PPT,” ungkap Wakil Ketua KPK Laode M Syarif saat konferensi pers di gedung KPK, Jakarta, Senin (15/10) malam.

KPK menduga realisasi pemberiaan sampai saat ini adalah sekitar Rp 7 miliar melalui beberapa kepala dinas, yaitu pemberian pada April, Mei, dan Juni 2018. Syarif menyatakan, keterkaitan sejumlah dinas dalam proses perizinan karena proyek tersebut cukup kompleks, yakni memiliki rencana pembangunan apartemen, pusat perbelanjaan, rumah sakit hingga tempat pendidikan.

“Sehingga dibutuhkan banyak perizinan, di antaranya rekomendasi penanggulangan kebakaran, amdal, banjir, tempat sampat, hingga lahan makam,” kata Syarif.anjir, tempat sampat, hingga lahan makam,” kata Syarif.[ANT/REP/ISH/POB]

Pin It

Leave a Reply

Your email address will not be published.