Trainer Bantuan Hidup Dasar Ajarkan Cara Resusitasi Jantung Paru

Trainer BHD.[IST]

POSBEKASI.COM | KOTA BEKASI – Bantuan Hidup Dasar (BHD) adalah suatu kemampuan yang harus dimiliki oleh setiap individu, bukan hanya tenaga medis, tapi tenaga nonmedis juga harus memiliki keterampilan BHD untuk menolong kegawatdaruratan pra rumah sakit.

RSUD dr.Chasbullah Abdulmadjid Kota Bekasi melalui program dari Instalasi Diklat memberikan gambaran cara melakukan Bantuan Hidup Dasar dengan Resusitasi kepada pegawai RSUD peserta apel pagi, Rabu 10 Oktober 2018.

Ns. Jajang Firdaus, S.Kep selaku trainer BHD yang juga merupakan kepala ruang IGD menjelaskan seluruh pegawai RSUD Kota Bekasi maupun yang bekerja dilingkungan RSUD seperti pedagang kantin, cleaning service, security, sampai dengan pegawai bank di RSUD harus paham dan bisa melakukan tindakan BHD.

“Hari ini saya dan Ns. Anita sebagai Trainer ingin menjelaskan tahapan dan cara memberikan bantuan hidup dasar dengan cara RJP (Resusitasi Jantung Paru)”, terangnya.

“Tahapan yang pertama jika menemukan korban yang tidak sadarkan diri kita memeriksa respon dengan cara memanggil korban, jika korban tidak menjawab lalu cari bantuan dengan cara memanggil orang disekitar”, lanjutnya.

“Tahap selanjutnya kita periksa denyut nadi dengan cara meraba di leher atau disebelah jakun dan memeriksa apakah korban bernafas atau tidak dengan cara melihat apakah ada pergerakan pada dinding dada atau tidak”, tambahnya.

“Apabila tidak ditemukan denyut nadi dan korban tidak bernafas maka kita lakukan resusitasi dengan tahapan yang pertama kita lakukan kompresi jantung di dua jari diatas tulang uluhati dengan posisi tangan lurus dan memompa mengikuti ayunan badan”, sambungnya.

“Kompresi dilakukan sebanyak 30 kali pastikan saat kompresi tumit tangan tidak lepas dari dinding dada korban, lalu berikan 2 kali nafas buatan, sebelum memberikan nafas buatan pastikan membuka jalan nafas dengan cara menaikan jidat keatas dan menaikkan dagu ke atas”, jelasnya.

“Siklus resusitasi dilakukan dengan 30 kali kompresi dan 2 kali nafas buatan, dan dihentikan apabila korban sudah bernafas, penolong sudah kelelahan, dan bantuan dari tim medis datang”, tutupnya.

Ns. Selvi Monica, S.Kep dari Komite Mutu dan Keselamatan Pasien mengungkapkan setiap harinya kita sudah jadwalkan untuk karyawan maupun yang bekerja di lingkungan rumah sakit untuk dilatih BHD di ruang diklat gedung E lantai 6.

“Target kita setiap harinya melatih sedikitnya 30 orang dan semua terlatih dan bisa untuk melakukan BHD, karena BHD ini merupakan salah satu instrumen penilaian dari akreditasi rumah sakit”, terangnya.[REL/MIN]

Pin It

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *