Seniman Pejuang Kebudayaan

Penulis dan pencinta seni lukis.[DOK]

POSBEKASI.COM – Seniman sering dikatakan aneh, nyenytrik, bahkan dianggap nyleneh dan ora umum. Berkesenian merupakan panggilan hidup, bukan sekedar melaksanakan suatu ritual.

Para seniman memberikan jiwanya agar apa yang dilakukan atau produk-produk karyanya menjadi hidup.

Yang dilakukan adalah ketulusan, bukan untuk untung dan rugi, walaupun ia harus hidup dan menghidupi keluarganya. Hidupnya benar-benar digantungkan kepada Tuhan. Seniman yang menggaji Tuhan, katanya.

Mereka berkeyakinan kalau Tuhan memberikan kesempatan hidup, maka Tuhan akan memberinya kehidupan. Bagi orang kebanyakan tentu prinsip ini dianggap gila bahkan bisa dianggap pemalas atau urip sak karep e dewe.

Seniman dalam berkarya ada yang menunggu mood bila hatinya suka, dan menemukan moodnya ia akan bekerja terus dalam berkarya. Bila sedag tidak mood mungkin orang melihatnya seperti pemalas, mondar mandir, nongkrong sana-sini.

Menjadi seniman dalam negara yang belum memberi apresiasi tinggi seperti memilih antara hidup dan mati. Karena tidak semua mendapat anugrah bisa hidup sejahtera. Terkadang mereka malah hidup dalam batas kemiskinan.

Sebut saja, I nyoman Lentor, seorang pematung dari Desa Mas Ubud, Bali. Nyoman Lentor ditinggalkan anak dan istrinya, ia sakit dan harus membawa kantong untuk dubur daruratnya. Ia terus bekerja dan berkarya. Tidur di bale bengong di dekat karyanya. Ia mengalami kelumpuhan dan penurunan kemampuan mengukir. Ia tidak tinggal diam, dalam kondisi sakit parahpun terus berkarya walau sebatas memberi petunjuk-petunjuk, sampai ajal menjemputnya. Nyoman Lentor meninggal di dekat karyanya.

Banyak lagi, seniman-seniman yang kurang beruntung di dalam materi, namun terus berkarya dan mencintai karyanya dengan tulus hati.

Ida Bagus Made Poleng, pelukis bali yang eksentrik hidup sangat sederhana, walau karyanya berharga sangat tinggi.

Seniman-seniman yang tidak terkenal terus berkarya semampunya. Bahkan ada yang rela menjadi kuli dan tukang batu untuk menyambung hidup dan tetap terus berkarya. Idealisme sang seniman sering terabaikan, apalagi ketika tidak menghasilkan uang.

Vincent Vab Gogh, pelukis asal Belanda yang mengalami stres dan menembak dirinya sendiri. Karya-karyanya sangat luar biasa, tapi hidupnya sangat tragis.

Seumur hidupnya, hanya satu lukisannya yang laku. Ia hidup ditopang adiknya. Dalam kegoncangan jiwanya ia terus berkarya.

Ada pula pematung di musim dingin, demi melindungi karyanya rela melepas mantelnya untuk melindungi karyanya.

Seni menjadi ruh dari suatu masyarakat yang hidup tumbuh dan berkembang. Kegigihannya melestarikan kebudayaan walau harus berjuang dalam beratnya badai kehidupan.

Karakter dan jiwa suatu komunitas dan masyarakat kebudayaanya ditopang para pekerja seni. Dari menenun, membuat bangunan, menata air atau pengairan, masakan, cipta karsa dan karya lainnya.

Sering kali pilar-pilat kebudayaan ini rapuh, dan hanyut tergerus perubahan zaman tidak ada lagi yang mau merawatnya. Karya-karya tradisi yang merupakan tribal art, sering dionggokkan dan dianggap sampah. Ada yang malu dan merendahkan seni-seni tradisi.[Cryshnanda Dwilaksana]

Pin It

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *