Pingin Punya Rumah, Ratusan Pekerja Pabrik Ditipu Miliaran Rupiah “Pak Presiden Tolong Kami”

Konsumen Perumahan GGS berunjukrasa di Kantor PT ABM, Kamis 6 April 2017.[YAN]

Konsumen Perumahan GGS berunjukrasa di Kantor PT ABM, Kamis 6 April 2017.[YAN]

POSBEKASI.COM – Ratusan konsumen Perumahan Green Griya Setu (GGS), Kabupaten Bekasi, sebagian besar adalah pekerja pabrik meminta bantuan pada Presiden Joko Widodo atas penipuan yang dilakukan pengembang perumahan yang tidak kunjung dibangun dan uang muka (DP) mereka sampai kini tidak dikembalikan.

Ratusan konsumen itu kembali menelan kekecewaan karena pihak management untuk kesekian kalinya “ingkar janji” mengembalikan uang muka yang mereka setorkan 1,5 tahun lalu tidak juga dicairkan oleh managemen PT Agung Buana Mandiri (ABM).

Akibatnya, sekitar 100 orang lebih dari 700 konsumen perumahan GGS datang menyerbu Kantor PT ABM di Kampung Rawa Atug, RT03/06, Desa Cibening, Kecmatan Setu, Kabupaten Bekasi, Kamis 6 April 2017, sejak pukul 09:00.

Puluhan aparat kepolisian gabungan yang terjun mengamankan konsumen dari Polsek Setu, Polsek Tambun, Polsek Cikarang dan Polsek Tambelang, dipimpin langsung Kapolsek Setu AKP Agus Rohmat, dibantu anggota TNI dari Koramil/06 Setu.

Pasalnya, konsumen yang kesal akan janji dan cek mundur yang diberikan pihak pengembang pada Jumat 17 Maret 2017 lalu, ternyata tidak dapat dicairkan di bank.

Setelah dilakukan pertemuan yang dimediasi oleh pihak kepolisian yakni, Solihin (Dirut TP ABM), Nur Wulan (Direktur PT ABM), Dimas (PT ACP), Ilyas (PT ABM), Anton Juliansyah (perwakilan konsumen), Santi (Kaurkesra Desa Cibening), Kaposlek Setu AKP Agus Rohmat, dan Kanit Reskrim Polsek Setu Iptu Indon Sitorus.

Menurut Kapolsek, pada pertemuan tersebut disepakati bersama dimana pengembang yang menunjuk PT Amata Cipta Pertiwi (ACP) yang meakuisisi proyek Perumahan GGS berjanji akan mencairkan pengembalian uang muka konsumen pada Rabu 3 Mei 2017 mendatang.

“Sebelum pencairan, terlebih dahulu konsumen diminta datang pada Jumat 14 April 2017 ke kantor notaris yang ditunjuk PT ACP,” jelas Kapolsek.

Sebelum terjadinya pertemuan tersebut, para konsumen sempat berunjukrasa dengan membawa berbagai poster meminta Dirut PT ABM Solihin ditangkap.

Berbagai poster yang dibentangkan para konsumen di Kantor PT ABM yang juga kantor pemasaraan Perumahan GGS diantaranya, “Pak Presiden Tolong Kami, Pak Jokowi Tolong Bantu Kami, Tangkap Penjarakan Solihin Dkk Penipu Rakyat, PT ABM dan Solihin Penipu, Penjarakan Solihin Kembalikan Uang Kami, Sita Aset PT ABM, Kami Hanya Minta Uang Kami Dikembalikan”.

Sebelum membubarkan diri dengan tertib sekitar pukul 15:00, ratusan konsumen itu mengancam bila hingga 3 Mei 2017 pihak manegemen mengingkari janjinya lagi akan melaporkan Solihin dan kawan-kawan ke Polres Metro Bekasi.

“Aksi berjalan aman hingga konsumen meninggalkan lokasi semua berlansung tertib,” kata Kapolsek.

Sebelumnya, salah seorang konsumen perumahan GSS, Yusro, warga Rawa Rumbu, Kota Bekasi, mengatakan mereka menuntut menagemen yang telah berulang kali berjanji mengembalikan uang DP yang telah mereka bayarkan.

“Kami sudah membayar uang booking fee Rp1 juta ditambah DP Rp12,5 juta, bahkan ada yang  sudah membayar Rp30-50 juta, tapi rumah yang dijanjikan tidak jadi dibangun. Kami hanya tuntut pengembalian DP. Pihak management sudah sepakat mengembalikan seluruh uang kami dan ini janji ketiga kalinya,” terang Yusro kepada Posbekasi.co.

Padahal kata Yusro, hari ini merupakan pencairan yang ketiga kali yang dijanjikan managemen pada pertemuan bulan lalu dengan memberi kami cek mundur. “Tapi ceknya tidak bisa dicairkan, ini cek bodong. Jangankan rumah, uang kami saja belum dikembalikan. Kami akan terus menunggu sampai managemen mengembalikan uang kami,” katanya.

Sementara, salah seorang rekan Yusro mengatakan, ada sekitar 700 konsumen Perumahan GGS kebanyakan pekerja pabrik di kawasan M2100 dan Cikarang, berniat bisa memiliki rumah tapi nyatanya tertipu.

“Karena lokasi perumahan tidak begitu jauh dengan lokasi pabrik, masing-masing pribadi memilih perumahan ini, tapi nyatanya tidak jadi dibangun dan uang kami sampai kini tidak dikembalikan. Kami berharap Pak Presiden mau bantu kami,” katanya.

Bila dihitung 700 konsumen yang telah membayar uang muka rumah rata-rata sebesar Rp13,5 juta, maka total uang konsumen yang sudah masuk ke pengembang perumahan tersebut mencapai Rp9,1 miliar.[YAN]

Pin It

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *